Art Original
Analisis Sistem Agribisnis Padi Sawah Sri Organik Di Desa Kelayang Kecamatan Rakit Kulim Kabupaten Indragiri Hulu Provinsi Riau
Analisis Sistem Agribisnis Padi Sawah SRI Organik di Desa Kelayang Kecamatan Rakit Kulim Kabupaten Indragiri Hulu. Dibawah Bimbingan Bapak Dr.Ir. Ujang Paman Ismail, M.Agr Pola pertanian padi SRI organik merupakan perpaduan antara metode budidaya padi SRI yang pertama kali dikembangkan di Madagaskar dengan metode budidaya padi organik dalam praktek pertanian organik. Metode ini akan mingkatkan fungsi tanah sebagai media tumbuh dan sumber nutrisi tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis (1) karakteristik petani dan profil usahatani padi SRI organik, (2) subsistem penyediaan sarana produksi padi SRI organik, (3) subsistem usahatani padi SRI organik, (4) subsistem agroindustri padi SRI Organik, (5) subsistem pemasaran padi sawah SRI organik, (6) subsistem kelembagaan penunjang pada usahatani padi sawah SRI organik. Penelitian ini menggunakan metode survey yang dilakukan di Desa Kelayang Kecamatan Rakit Kulim dari bulan Oktober 2021-April 2022. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Pengambilan responden diambil secara sensus. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Umur rata-rata petani 46,13 tahun, lama pendidikan (setara SMP), jumlah tanggungan keluarga 2 jiwa dan pengalaman berusaha 6 tahun dan rata-rata luas lahan garapan 1,5 Ha (2) Subsistem sarana produksi meliputi: dimana rata-rata ketepatan benih adalah 84,21%, rata-rata ketepatan pupuk adalah 76,31%, rata-rata ketepatan pestisida adalah 73,68%, dan rata-rata ketepatan peralatan adalah 77,19%. (3) Subsistem usahatani padi sawah SRI organik meliputi biaya produksi terbesar adalah penggunaan biaya tetap yaitu sebesar Rp 12.282.479,89/MT. Proporsi terbesar ke dua adalah biaya pupuk kandang yaitu sebanyak Rp 6.000.000 Proporsi terbesar ketiga adalah penggunaan tenaga kerja luar keluarga yaitu sebanyak Rp. 2.369.000 Alokasi penggunaan biaya terkecil adalah benih yaitu sebanyak Rp. 68.089 Berdasarkan hasil analisis RCR, diketahui bahwa rasio antara pendapatan kotor dengan biaya produksi usahatani sebesar 1,53. Hal ini bermakna bahwa setiap Rp.1,00 alokasi biaya produksi maka akan diperoleh pendapatam kotor sebanyak Rp.1,53, ini berarti usahatani padi sawah menguntungkan dan layak untuk dikembangkan (4) Subsistem agroindustri padi sawah SRI organik diketahui bahwa 1 kg gabah hanya menghasilkan 0,6 kg beras dengan harga Rp 6.500. (5) Subsistem pemasaran padi sawah SRI organik terdapat 2 saluran pemasaran yaitu: saluran I : petani – pedagang pengumpul tingkat daerah – pedagang pengecer – konsumen. Saluran II: pengusaha -konsumen. Saluran I merupakan rantai pemasaran yang lebih efisien, dengan nilai efisiensi 2%, (6) Subsistem penunjang meliputi: pemerintah, penyuluh dan kelompok tani Padi Fajar. Kegiatan yang telah dilakukan meliputi penyuluhan, pelatihan dan bantuan saprodi. Namun dari jumlah sarana dan prasarana yang telah disediakan pemerintah tidak mencukupi.
No other version available