Art Original
Analisis Pola Sebaran Fasilitas Pendidikan Di Kota Tanjungpinang Dengan Metode Buffering
Pendidikan merupakan elemen fundamental dalam pembangunan berkelanjutan dan kemajuan masyarakat, sebagai fondasi utama untuk perkembangan individu dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Di Kota Tanjungpinang, yang berfungsi sebagai ibu kota Provinsi Kepulauan Riau, kebutuhan akan fasilitas pendidikan yang memadai menjadi semakin mendesak seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk. Berdasarkan Undang-Undang dan peraturan pemerintah terkait, penting untuk memastikan bahwa sarana pendidikan tersedia secara merata dan dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pola sebaran fasilitas pendidikan dan aksesibilitasnya menggunakan metode analisis spasial dan proyeksi kebutuhan di Kota Tanjungpinang. Dalam penelitian ini, pendekatan kuantitatif dan kualitatif digunakan untuk mengevaluasi pola sebaran fasilitas pendidikan serta keterjangkauannya. Metode analisis tetangga terdekat (nearest neighbour analysis) diterapkan untuk menilai pola distribusi fasilitas pendidikan, sedangkan analisis spasial GIS dengan teknik buffering digunakan untuk mengukur jarak jangkauan layanan pendidikan. Proyeksi penduduk hingga tahun 2044 juga dilakukan untuk memperkirakan kebutuhan tambahan fasilitas pendidikan. Data yang dikumpulkan mencakup lokasi fasilitas pendidikan yang ada, kepadatan penduduk, serta aksesibilitas dari berbagai wilayah di kota. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa pada tahun 2044, diperlukan penambahan signifikan dalam jumlah fasilitas pendidikan: 40 unit SD/MI, 14 unit SMP/MTs, dan 14 unit SMA/SMK/MA. Pola sebaran fasilitas pendidikan saat ini menunjukkan pola acak untuk SD/MI dan SMP/MTs, serta pola seragam untuk SMA/SMK/MA. Analisis aksesibilitas menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah pelayanan SD/MI dan SMP/MTs dapat dijangkau dalam radius kurang dari 1.000 meter, sedangkan SMA/SMK/MA dapat dijangkau dalam radius kurang dari 3.000 meter. Meskipun akses pendidikan di wilayah kepadatan tinggi seperti Tanjungpinang Timur relatif baik, daerah pinggiran seperti Pulau Penyengat masih menghadapi tantangan akses yang signifikan. Rekomendasi penelitian mencakup perencanaan penambahan fasilitas di area yang kekurangan dan peningkatan aksesibilitas di wilayah terpencil
No other version available