Art Original
Pengaruh Pemanfaatan Abu Fiber Kelapa Sawit Terhadap Uji Ekstraksi Kadar Aspal Pada Perkerasan Asphalt Concrete-Wearing Course (ac-wc)
Pada perkerasan jalan, aspal saat ini perlu dilakukan pemeriksaan sampel (benda uji) yaitu, pemeriksaan kadar aspal untuk mengetahui nilai dari kandungan aspal, apakah sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan, menurut SKBI – 24.26.1987 yaitu kadar aspal yang diizinkan berkisar antara 4% sampai 7%. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh hasil kadar aspal rencana dengan membandingkan kadar aspal hasil ekstraksi dengan penambahan abu fiber sawit. Pada penelitian ini metode yang digunakan dengan cara eksperimental ekstraksi kadar aspal dengan menggunakan Spesifikasi Bina Marga 2018 (Revisi 2), Cantrifuge Exctractor sebagai alat ekstraksi dan pertalite sebagai pelarutnya. Oleh karena itu dibutuhkan perkerasan jalan yang ramah lingkungan namun juga memberikan kenyamanan untuk pengendara, selain itu juga awet dan murah. Berdasarkan hasil penelitian kadar aspal optimum diperoleh 6,1%. Pada hasil ekstraksi terjadi kenaikan kadar aspal dari kadar aspal rencana yaitu 6,1% dengan nilai sampel 0% = 6,1%, sampel 50% = 6,3% dan sampel 100% = 6,6%, dengan deviasi pada sampel 50% = +0,2%, dan sampel 100% = +0,5%. Dari hasil ekstraksi di atas kadar aspal yang diperoleh dari hasil ekstraksi masih belum murni. Oleh karena itu sebagai pendekatan kadar aspal dari ekstraksi maka hasil tersebut harus dikurang dengan abu fibernya yaitu 3,8% sampel 50% dan 1,6% sampel 100%. Dari pengujian perbandingan hasil ekstraksi dapat disimpulkan kadar aspal sampel normal, 50% dan 100% mengalami kenaikan setelah diekstraksi. Ini dikarenakan abu fiber sawit, pada saat proses ekstraksi abu fiber ikut terbawa bersama bahan pelarut dan aspal. Dari hasil pengurangan kadar aspal hasil ekstraksi lebih kecil dari pada kadar aspal rencana hal ini disebabkan kadar aspal yang ada di pori-pori agregat belum terurai.
No other version available