Art Original
Kajian Tingkat Kekritisan Lahan Di Kabupaten Siak
Lahan kritis merupakan salah satu bentuk dari lahan terdegradasi. Jika lahan kritis dibiarkan terus menerus maka luasannya akan bertambah dan lahan menjadi tidak produktif lagi, selanjutnya akan mempengaruhi kualitas lingkungan, kerugian materi, serta penurunan kesejahteraan masyarakat. Lahan kritis disebabkan oleh tekanan penduduk, juga perluasan areal dan perkebunan yang tidak serta pengelolaan hutan yang tidak maksimal. Pengelolaan lahan kritis dilakukan Sebagai upaya mengurangi dampak terhadap lingkungan yang disesuaikan dengan tingkat kekritisan lahan-lahan tersebut. Kabupaten Siak merupakan kabupaten yang pertumbuhan luas areal perkebunannya cukup besar dan terus meningkat dari tahun ketahun. Hal ini mengindikasikan adanya perluasan lahan kritis di Kabupaten tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kekritisan lahan di Kabupaten Siak. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang dimulai dengan identifikasi parameter penentu lahan kritis yaitu penutupan lahan, kemiringan lereng, tingkat bahaya erosi, produktivitas, dan pengelolaan lahan yang selanjutnya dispasialkan untuk di lakukan pembobotan. Hasil spasialisasi dan pembobotan terhadap parameter tersebut selanjutnya dianalisis dengan metode overlay sehingga didapatkan nilai yang menjadi dasar penentuan tingkat kekritisan lahan. Hasil penelitian menunjukkan Kabupaten Siak terdapat 5 kelas tingkat kekritisan lahan yaitu sangat kritis, kritis, agak kritis, potensial kritis, dan tidak kritis.Luas lahan dengan kondisi sangat kritis 18.726,68 Ha, kritis 65.241,43 Ha, agak kritis 88.412,47 Ha, potensial kritis 289.102,35 Ha, dan tidak kritis 322.411,53 Ha. Sebaran lahan sangat kritis dan kritis terluas terdapat pada lindung di luar kawasan hutan seluas 40636,39 Ha. Diikuti lahan kritis kawasan budidaya pertanian seluas 40.370,59 Ha dan yang terkecil berada pada kawasan hutan lindung seluas 2.893,90 Ha.
No other version available