Art Original
Analisis Tari Payung Di Sanggar Puti Limo Jurai Bukittinggi
ABSTRAK Pada penelitian ini, penulis membahas tentang Tari Payung di Sanggar Puti Limo Jurai yang merupakan tarian tradisional yang berbasis di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Tarian ini memiliki ciri khas yang menggambarkan nilai-nilai kehidupan masyarakat daerah Sumatera Barat dengan gerakan sederhana namun mengandung gagasan yang bersumber kepada budaya dan adat istiadat lokal. Tari Payung ini diikat oleh norma dan aturan adat tempat bernaungnya yakni di Kota Bukittinggi. Pencipta gerakan Tari Payung ini bernama Oktavianus atau biasa dipanggil „Mak Boy? yang merupakan alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang. Sanggar Puti Limo Jurai memiliki sarana khusus untuk mengembangkan bakat masyarakat setempat dari bidang seni tari maupun musik. Pada penelitian ini, penulis menggunakan teknik observasi, wawancara dan pengamatan langsung dengan narasumber Tommy Gusman yang merupakan pelatih pada sanggar tersebut. Dalam analisis ini, penulis meneliti tentang unsurunsur yang terdapat pada Tari Payung seperti gerak, musik, tata rias, kostum, desain lantai, pencahayaan dan tempat pertunjukan. Tari Payung ini menjelaskan drama kisah cinta sepasang kekasih, oleh sebab itu tarian ini memliki gerakan yang cenderung bebas dan tidak terlalu khusus seperti tarian tradisional lainnya. Saat menarikan Tari Payung akan diiringi dengan dua elemen pengiring, yakni tabuhan alat musik tradisional dan syair atau lagu “Babendi-bendi ke sungai Tatang”. Alat musik pengiringnya terdiri dari gendang Melayu, bansi, talempong melodi, tambua dan talempong akor. Tempo dan ritme alunan music harus sesuai dengan tarian. Maka dapat disimpulkan bahwa Tari Payung ini menceritakan tentang pasangan memiliki makna kasih sayang dan perlindungan untuk sang kekasih. Tarian ini dibawakan oleh dua atau empat orang berpasangan menggunakan properti payung dan selendang. Penari laki-laki melambangkan sosok pelindung yang merupakan pilar utama keluarga. Sedangkan selendang yang dikenakan oleh penari perempuan menggambarkan ikatan suci cinta dari pasangan yang sering diartikan sebagai kesetiaan seorang wanita membina rumah tangga. Sehingga tarian ini menceritakan tentang manusia di suku Minangkabau yang hidup berpasangan dan meski dalam nuansa kasmaran tetap mematuhi adat istiadat yang telah ditentukan.
No other version available