Art Original
Gambaran Disonansi Kognitif Pada Penduduk Kota Pekanbaru Terhadap Go Green
Efek perubahan iklim terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan merupakan bagian integral dari kesehatan manusia secara keseluruhan. Namun, sebagian orang Indonesia belum melihat masalah lingkungan sebagai masalah yang sangat penting. Menurut laporan BPS 2019 ada 16 kasus banjir dan 32 kasus kebakaran hutan dan lahan di provinsi Riau pada tahun 2019. Dan gubernur Syamsuar juga mengakui fakta bahwa provinsi Riau memiliki indeks kualitas lingkungan terendah di Sumatera. Oleh karena itu, peneliti menemukan ketidaksesuaian antara keyakinan, sikap dan tindakan. Bias ini mempengaruhi proses pengambilan keputusan yang disebut disonansi kognitif, yang berarti bias yang terjadi ketika orang bertindak.Tujuan dari studi ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi pada disonansi kognitif yang dialami oleh penduduk Pekanbaru terhadap penerapan praktik yang berkelanjutan secara ramah lingkungan, yang biasa dikenal sebagai “go green”. Pada penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif. Subjek penelitian ini adalah penduduk kota Pekanabru yang minimal berumur 17 tahun dan pernah mendapatakan pendidikan formal minimal SMA. Sehingga teknik pengambilan sampling meggunakan purposive sampling dan metode pengambilan data menggunakan skala semantik diferensial. Hasil penelitian menujukkan bahwa determinan disonansi kognitif penduduk kota Pekanbaru terhadap go green adalah marah, kesal, sedih, tertekan, membenci, sulit, dan telah tertipu dengan perbuatan dirisendiri. Oleh karena itu, 7 komponen tersebut menunjukkan bahwa perubahan iklim merupakan masalah yang serius. Namun, menjadikan go green sebagai gaya hidup adalah hal yang sulit.
No other version available