Art Original
Strategi Pengembangan Usahatani Porang Di Kota Pekanbaru Provinsi Riau
Strategi Pengembangan Usahatani Porang (Amorphophallus Muelleri) di Kota Pekanbaru Provinsi Riau. Bimbingan Bapak Heriyanto, SP., M.Si. Kebutuhan akan bahan pangan yang semakin meningkat menyebabkan alternatif bahan pangan mulai dikembangkan salah satunya yaitu tanaman porang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis: (1) Karakteristik petani dan profil usahatani porang, (2) Usahatani porang, (3) Strategi pengembangan usahatani porang di Kota Pekanbaru. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Sampel dalam penelitian ini adalah petani porang yang bejumlah 20 orang petani di Kota Pekanbaru. Metode analisis yang digunakan terdiri dari analisis deskriptif kuantitaif dan kualitatif, analisis SWOT serta QSPM. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik rata-rata umur petani porang di Kota Pekanbaru adalah 50 tahun, tingkat pendidikan rata-rata adalah 11 tahun (setara tingkat SLTA-sederajat), pengalaman usahatani rata-rata adalah 3 tahun dan jumlah tanggungan keluarga rata-rata adalah 3 jiwa. Profil usahatani porang meliputi luas lahan rata-rata seluas 2,95 Ha dengan status kepemilikan lahan milik sendiri. Usahatani porang sepenuhnya bersumber dari petani sendiri (modal pribadi) tanpa adanya bantuan dari pihak lain. Tenaga kerja yang digunakan berasal dari dalam keluarga dan luar keluarga. Berdasarkan analisis usahatani total biaya produksi yang dikeluarkan usahatani porang yaitu sebesar Rp. 199.248.804/MT, jumlah produksi sebanyak 82.080,00 Kg/MT dengan harga jual umbi porang Rp. 3.500,00/Kg, sehingga diperoleh pendapatan kotor sebesar Rp. 287.280.000/MT, pendapatan bersih sebesar Rp. 88.031.196/MT dan efisiensi usahatani sebesar 1,45 maka usahatani porang tersebut layak untuk dijalankan. Berdasarkan analisis diperoleh 11 alternatif strategi yang dapat digunakan untuk mengembangkan usahatani porang di Kota Pekanbaru, strategi yang dapat diimplementasikan yaitu yang paling utama dengan skor tertinggi adalah memanfaatkan kerjasama dengan kemitraan mengingat petani yang sudah berpengalaman dan memiliki motivasi yang tinggi dan strategi dengan skor terendah adalah mempelajari dan memperluas informasi pasar mengenai harga yang berlaku.
No other version available