Art Original
Analisis Rantai Pasokan Produk Agroindustri Tepung Sagu Di Kecamatan Merbau Kabupaten Kepulauan Meranti (studi Kasus: Usaha Agroindustri Tepung Sagu Kilang X)
Analisis Rantai Pasokan Produk Agroindustri Tepung Sagu Di Kecamatan Merbau Kabupaten Kepulauan Meranti (Studi Kasus: Usaha Agroindustri Tepung Sagu Kilang X) di Bawah Bimbingan Dr. Ir. Saipul Bahri, M.Ec Rantai pasok dapat meningkatkan pendapatan para petani, dan juga meningkatkan pendapatan para pihak yang terkait sepanjang rantai pasokan agroindustri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis: (1) karakteristik anggota rantai pasokan agroindustri tepung sagu di Kecamatan Merbau (2) mekanisme distribusi rantai pasokan agroindustri tepung sagu, (3) efisiensi distribusi rantai pasokan agroindustri tepung sagu, dan (4) nilai tambah pada setiap anggota rantai pasok tepung sagu. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah survei, Penelitian ini berlokasi di Kecamatan Merbau Kabupaten Kepulauan Meranti. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 28 sampel yang diambil secara purposive yang meliputi petani sagu, pedagang pengepul tual sagu, pabrik pengolahan tual sagu, pedagang pengecer, dan konsumen. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Karakteristik pelaku rantai pasok memiliki usia paling banyak yakni 48-53 tahun dan di dominasi dengan jenis kelamin laki-laki. Pendidikan terakhir terbanyak adalah SMP dan jumlah tanggungan keluarga 1-3 orang serta pengalaman usaha paling banyak yakni 3-5 tahun. (2) Mekanisme distribusi yakni aliran barang, informasi, dan keuangan pada 3 saluran pemasaran. Saluran I distribusi biaya pemasaran oleh petani, pabrik, dan pedagang pengecer yaitu Rp 1.197/kg tepung sagu dan margin distribusi rantai pasok yaitu Rp 7.778,46/kg. Saluran II distribusi biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh petani, pabrik, dan pedagang pengecer sebesar Rp 1.184/kg tepung sagu. Margin distribusi rantai pasok yaitu Rp 7.369,24/kg. Saluran III distribusi biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh petani, pabrik, dan konsumen adalah 1.381/kg tepung sagu. Margin distribusi rantai pasok yaitu Rp 5.369,24/kg. Efisiensi distribusi rantai pasok pada saluran I yaitu 11,53%, saluran II yaitu 11,85%, dan saluran III yaitu 17,26%. (3) Efisiensi distribusi rantai pasok pada saluran I yaitu 11,53%, saluran II yaitu 11,85%, dan saluran III yaitu 17,26%. (4) Rasio nilai tambah pada tingkat petani yang menjual tual sagu ke pabrik adalah 97,95%, sedangkan petani yang menjual tual sagu ke pengepul memiliki nilai tambah 96,15%. Rasio nilai tambah pada pedagang pengumpul tual sagu adalah 11,58% dan rasio nilai tambah pabrik pengolahan tual sagu sebesar 40,6%.
No other version available