Art Original
Pengaruh Pemanfaatan Abu Fiber Kelapa Sawit Dan Waterglas Terhadap Cbr Dan Kuat Geser Tanah Lempung
Tanah lempung merupakan salah satu masalah umum di beberapa daerah di Riau, termasuk di daerah Sail, Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru. Pada saat hujan turun, tanah lempung di wilayah ini menjadi basah dan sangat empuk, sehingga menyebabkan permukaan tanah menjadi licin dan berpotensi menyebabkan kecelakaan. Kurangnya daya cengkeram tanah menjadi faktor utama yang mengakibatkan risiko bagi para pengguna jalan dan pejalan kaki, yang berpotensi tergelincir dan mengalami kecelakaan. Untuk mengatasi masalah ini, perlu dilakukan upaya stabilisasi tanah yang efektif. Salah satu metode yang dapat menjadi pertimbangan adalah penggunaan bahan stabilisasi seperti abu fiber kelapa sawit dan waterglass. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh perubahan nilai CBR dan nilai kuat geser terhadap tanah yang sudah distabilisasi menggunakan campuran abu fiber sawit dan waterglass pada kondisi kadar air optimum. Penelitian ini menggunakan metode uji laboratorium yaitu pengujian CBR dan UCS dengan bahan tambah abu fiber kelapa sawit yang berasal dari pabrik pengolahan kelapa sawit yang berada di kabupaten Pelalawan dan waterglass yang didapatkan dan dijual bebas di toko kimia. Variasi campuran tanah dengan abu fiber kelapa sawit yaitu 9%, 12%, dan 15% dan waterglass 5% dari berat kering tanah. Dengan kondisi tidak diperam, pemeraman selama 4 dan 7 hari, dan perendaman 4 dan 7 hari untuk CBR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai CBR tanah asli tanpa perendaman dan tanpa pemeraman adalah 4,67%, setelah ditambahkan 9%, 12%, dan 15% abu fiber sawit dan 5% waterglass menghasilkan peningkatan nilai CBR yaitu menjadi 10,43%; 11,63%; 10,73%. Kemudian tanah yang terstabilisasi diperam selama 4 hari mengahasilkan nilai CBR sebesar 18,12%; 18,92%; 19,13%. Kemudian pemeraman selama 7 hari menghasilkan nilai CBR sebesar 14,45%; 17,87%;17,92%. Pada perendaman selama 4 hari nilai CBR tanah asli sebesar 2,25%, setelah distabilisasi menghasilkan peningkatan nilai CBR yaitu menjadi 9,92%; 11,5%; 11,83%. Kemudian pemeraman selama 7 hari mengahasilkan nilai CBR 8,42%; 11,3%; 11,67%. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa nilai kuat geser undrained (cu) tanah asli tanpa pemeraman adalah 1,67 kg/cm², setelah distabilisasi menghasilkan peningkatan nilai kuat geser undrained (cu) menjadi 1,83kg/cm²; 1,93kg/cm²; 1,9kg/cm². Kemudian tanah yang terstabilisasi diperam selama 4 hari mengahasilkan kuat geser undrained (cu) sebesar 1,99kg/cm²; 2,09kg/cm²; 2,54kg/cm². Selain pemeraman 4 hari, tanah yang terstabilisasi juga diperam selama 7 hari dan menghasilkan kuat geser undrained (cu) sebesar 1,86kg/cm²; 2,13kg/cm²; 2,17kg/cm². Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan abu fiber kelapa sawit dan waterglass sebagai bahan stabilisasi memiliki potensi efektif dalam mengatasi masalah tanah lunak.
No other version available