Art Original
Biosolvent Dari Pemanfaatan Limbah Kulit Nanas Dan Penambahan Additive Xylene Digunakan Sebagai Wax Inhibitor
Wax cendrung mengkristal pada kondisi suhu yang rendah, yang mengakibatkan crude oil sulit untuk bergerak. Sehingga kondisi ini akan mempengaruhi proses transportasi di pipa aliran. Solvent merupakan salah satu teknik yang digunakan untuk mengatasi wax. Solvent yang digunakan sebagai wax inhibitor adalah bioetanol. Bioetanol berasal dari limbah kulit nanas memiliki kandungan selulosa dan hemiselulosa yang merupakan sumber utama dari produksi bioetanol. Proses limbah kulit nanas menjadi produk bioetanol dilakukan dengan proses pretreatment, hidrolisis, fermentasi dan distilasi. Proses hidrolisis dilakukan dengan menggunakan Asam klorida (HCL) dengan variasi kosentrasi asam dan variasi temperatur. Pengaruh variasi konsentrasi asam yang digunakan didapatkan gula reduksi yang terus meningkat. Sedangkan pada variasi temperatur di dapatkan titik optimum gula reduksi pada suhu 100°C sebesar 24°Brix. Hasil fermentasi didaptkan kadar etanol yang terus meningkat seiring penambahan urea. Kadar etanol tertinggi dihasilkan dengan menggunakan saccharomyces sebanyak 0.015 gr/mL + 5 gr urea yaitu 18% kadar bioetanol yang dihitung dengan menggunakan alat alkoholmeter. Sedangkan dengan pengujian GCMS didapatkan kadar bioetanol sebesar 16.45%. Hasil penggunaan bioetanol dengan kadar 16.45% dapat menurunkan pour point sebesar 3°C pada konsentrasi 75%. Sedangkan penggunaan additive xylene di dapatkan kondisi optimum dalam menurunkan pour point sebesar 11°C pada konsentrasi 75%. Selan itu, pencampuran juga dilakukan terhadap bioetanol dan additive xylene. Pencampuran dengan perbandingan rasio bioetanol : xylene adalah 1:2 didapatkan konsentrasi terbaik dalam menurunkan pour point sebanyak 6°C pada volume rasio 75%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penggunaan bioetanol dan pencampuran bioetanol dengan additive xylene berpotensi baik dalam menurunkan pour point.
No other version available