Art Original
Analisis Perubahan Garis Pantai Terhadap Tingkat Bahaya Bencana Abrasi Di Wilayah Pesisir Kota Dumai
Pembangunan di wilayah pesisir di Indonesia saat ini kebanyakan tidak menghiraukan lingkungan seperti pembabatan mangrove untuk pembangunan industri atau perumukiman di sekitar pantai sehingga menimbulkan abrasi atau mundurnya garis pantai yang menyebabkan naiknya permukaan air laut ke darat. Kota Dumai merupakan salah satu kota yang sering terkena bencana abrasi karena terdapat kawasam wilayah pesisir di dalamnya. Pada tahun 2022 Bencana Abrasi yang menerjang wilayah pesisir Kota Dumai menimbulkan dampak kerugian seperti terjadinya pengikisan lahan pada pesisir jalan. Pengikisan lahan pertahunnya bertambah selebar 2,5 meter yang disebabkan oleh bencana abrasi sepanjang ± 142 meter. Sementara pada tahun 2021 akibat dari bencana abrasi di wilayah pesisir Kota Dumai berdampak pada kerusakan turap, kerusakan jalan, dan pengikisan area lahan sepanjang 10 meter. Berdasarkan latar belakang di atas adapun tujan penelitian ini teridentifikasinya kondisi eksisting wilayah pesisir Kota Dumai yang terkena bencana abrasi serta menganalisa perubahan garis pantai dengan tingkat bahaya bencana abrasi di wilayah pesisir Kota Dumai. Pendekatan penelitian yang digunakan pada penelitian analisis perubahan garis panatai terhadap tingkat bahaya bencana abrasi di wilayah pesisir Kota Dumai adalah pendekatan deskriptif kuantitatif. Berdasarkan hasil penelitian, Kondisi eksisting di Wilayah Pesisir Kota Dumai yang terkena bencana abrasi memiliki kondisi yang beragam seperti rusaknya jaringan jalan, rusaknya kawasan perumahan yang berada di Wilayah Pesisir Kota Dumai serta rusaknya beberapa struktur bangunan mitigasi bencana seperti turap dan pemecah gelombang. wilayah pesisir Kota Dumai seperti Kecamatan Medang Kampai memiliki tingkat bahaya bencana abrasi sedang dengan bentuk garis pantai lurus berteluk dan memiliki rata-rata panjang laju mundur garis pantai sejauh 18 meter, Kecamatan Dumai barat dengan bentuk garis pantai lurus berteluk dan memiliki rata-rata panjang laju mundur garis pantai sejauh 10 meter, Kecamatan Dumai kota dengan bentuk garis pantai lurus berteluk dan memiliki rata-rata panjang laju mundur garis pantai sejauh 5.8 meter, Kecamatan Dumai Timur dengan bentuk garis pantai lurus berteluk dan memiliki rata-rata panjang laju mundur garis pantai sejauh 8.13 meter dan Kecamatan Medang Kampai dengan bentuk garis pantai lurus berteluk dan memiliki rata-rata panjang laju mundur garis pantai sejauh 10.14 meter. Bencana abrasi di Wilayah Pesisir Kota Dumai juga dipengaruhi oleh lokasi wilayah penelitian yang berhadapan dengan selat malaka, kemudian tinggi gelombang setinggi 1.25-2.50 meter, kecepatan arah angin sejauh 25-30 km/jam atau 2.-25 knot.
No other version available