Art Original
Kajian Laboratorium Mengenai Pengaruh Salinitas Brine Dan Jenis Surfaktan Terhadap Wettabilitas Pada Artificial Core
Meningkatnya kebutuhan energi dalam negeri dan tingginya harga minyak dunia mengharuskan teknologi pengurasan tahap lanjut (EOR) mutlak untuk diimplementasikan pada lapangan-lapangan minyak tua yang masih mempunyai sisa minyak cukup banyak didalam reservoir. Metode EOR mampu mengoptimalkan pengurasan ladang minyak tua dimana mampu memproduksikan minyak sampai 70% dari OOIP. Salah satu metode EOR, yang dilakukan adalah chemical flooding. Chemical flooding dapat dilakukan dengan menggunakan surfaktan. Pada penelitian laboratorium terdiri dari empat proses, yakni pembuatan artificial core, pengujian sifat fisik artificial core dan curde oil, uji spontaneous imbibition test pada core untuk melihat efek dari larutan surfaktan terhadap proses pendesakan , serta pengujian sudut kontak dengan menggunakan alat goniometer. Core yang digunakan berjenis batuan sandstone dengan perbandingan 5:2 untuk pasir dan semen dan tambahan air sebanyak 10% dari berat total bahan kering. Uji wettabilitas ini untuk mengetahui pengaruh jenis surfaktan P-25 dan DMO 21041 dan konsentrasi salinitas brine (5000 ppm, 10,0000 ppm, 15.000 ppm, 20.000 ppm, dan 25.000 ppm) yang cocok dan optimum untuk diterapkan pada batuan pasir dengan metode sudut kontak. Berdasarkan hasil dari penelitian laboraturium , artificial core yang dibuat memiliki nilai porositas dan permeabilitas yang sangat baik. Dan juga, sifat fisik curde oil juga menujukkan kualitas yang baik dengan nilai API 31,29 dan viskositas 11,45 cp. Uji wettabilitas yang dilakukan mendapatkan nilai optimum pada Surfaktan P-25 0,3 % dan salinitas optimum dengan konsentasi 20.000 ppm dengan sudut kontak 109° (water wet) menjadi 76° (oil wet), sedangkan dengan surfaktan DMO 24101 0,3 % mendapatkan salinitas optimum pada konsentrasi 15.000 ppm.
No other version available