Art Original
Analisis Keekonomian Perbandingan Kontrak Psc Dan Kontrak Gross Split Pada Pekerjaan Workover Stimulasi Solvent Di Sumur Alfa Dan Beta Lapangan Elw
ABSTRAK Pada saat ini Indonesia mengalami berbagai perubahan dan perbaikan peraturan untuk sistem kontrak kerja,yang mana seiring dengan aktivitas yang dilakukan pada industri minyak dan gas bumi. Hal seperti ini tentunya akan berdampak pada investasi di hulu migas. Turunnya laju produksi merupakan salah satu permasalahan utama dalam produksi migas yang mana disebabkan oleh rusaknya formasi sumur produksi, untuk meningkatkan kembali yakni menggunakan metode workover pengasaman matrix acidizing dengan menginjeksikan solvent. Melihat kondisi migas yang kurang baik serta cost recovery yang tinggi, sehingga pemerintah melakukan perubahan sistem kontrak yang baru dengan menambahkan jumlah split untuk kontraktor agar menjadi pertimbangan dalam mengelola lapangan migas. Skema PSC Gross Split merupakan skema kontrak migas terbaru yang pertama diterapkan di Indonesia maupun dunia, yang dirilis oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Berbeda dengan skema kontrak PSC Cost Recovery, split antara pemerintah dan kontraktor pada PSC gross split ditetapkan diawal kemudian dari hasil gross revenue langsung dibagi antara keduanya sesuai dengan kriteria faktor variabel dan progresif yang tentunya split kontraktor akan lebih besar dibandingkan dengan Pemerintah. Namun, pemerintah mendapatkan pendapatan dari tax dan hasil split tersebut. Pada penelitian ini, dilakukan membandingkan dua sumur dengan menggunakan skema PSC Cost Recovery dan PSC Gross Split dengan investasi sumur Alfa 542,100 US$ dan sumur Beta 554,569 US$ dengan rata-rata harga minyak 85.75 US$, sehingga diperoleh hasil NPV sumur Alfa menggunakan skema PSC Cost Recovery sebesar 2.447.340,06 US$ dan IRR 256.35%, untuk skema GS 4.745.286,13 US$ dengan IRR 482.01%. Untuk sumur Beta skema PSC Cost Recovery mendapat NPV sebesar 2.573.225,31 US$ dan IRR 265.57%, pada skema GS mendapat NPV sebesar 5.005.787,81US$ dengan IRR 527.63%. Dari hasil indikator keekonomian PSC Gross Split menunjukan hasil yang lebih menguntungkan serta menarik bagi kontraktor bila diterapkan pada lapngan migas. Analisis sensitivitas dilakukan dengan mengurangi maupun menjumlahkan sebesar 15% menjadi 85% dan 115%. Dari hasil analisa yang dilakukan, harga minyak dan kumulatif produksi merupakan parameter yang paling berpengaruh terhadap hasil NPV, IRR, POT, PI maupun indikator keekonomian lainya.
No other version available