Art Original
Formulasi Bioethanol Dari Limbah Kulit Nanas Dan Penambahan Additive Toluene Sebagai Wax Inhibitor
Permasalahan deposisi wax paraffin merupakan salah satu masalah kepastian aliran yang terjadi padai industri migas yang menyebabkan penyumbatan selama proses produksi minyak. Untuk menanggulangi permasalahan tersebut dapat menggunakan metode chemical yaitu menginjeksi wax inhibitor. Salah satu wax inhibitor yang efektif yaitu solvent. Jadi penelitian ini bertujuan untuk melakukan formulasi pembuatan solvent bioetanol melalui rekayasa biomasa yaitu limbah kulit nanas. Untuk pembuatan solvent bioetanol melalui beberapa metode yaitu pretreatment, hidrolisis yang bertujuan mengkonversi selulosa menjadi glukosa dengan bantuan katalis asam HCl, fermentasi yang betujuan mengkonversi glukosa menjadi bioetanol dengan bantuan ragi saccaromyces cerevisiae dan terakhir destilasi. Hasilnya pada proses hidrolisis dengan variasi konsentrasi HCl 1M, 2M, 3M, 4M dan 5M menghasilkan glukosa 7 Brix, 16 Brix, 20 Brix, 21 Brix dan 24 Brix. Dan dengan variasi waktu pemanasan 1 jam sampai 5 jam kadar glukosa terus meningkat hingga mencapai titik optimum pada waktu 3 jam sebesar 24 Brix setelah itu kadar glukosa menurun. Hasil fermentasi dengan variasi waktu 1 hari sampai 6 hari didapatkan kadar bioetanol terus meningkat hingga pada titik optimum pada fermentasi selama 3 hari sebesar 16% dan setelah itu kadar bioetanol menurun. Bioetanol 16% dicampur kedalam waxy crude oil dengan nilai pour point 43°C, dan hasilnya mampu menurunkan nilai pour point sebesar 2-3°C. Untuk meningkatkan penurunan pour point bioetanol dicampur dengan solvent komersil yaitu toluene, dan hasilnya mampu menurunkan nilai pour point sebesar 6-7°C. Jadi dapat disimpulkan bahwa pencampuran bioetanol dan toluene yang dijadikan solvent dapat menghambat deposisi wax paraffin.
No other version available