Art Original
Analisis Usahatani Dan Pemasaran Semangka Di Kelurahan Kerinci Barat Kecamatan Pangkalan Kerinci Kabupaten Pelalawan
Semangka merupakan buah yang digemari masyarakat Indonesia karena rasanya yang manis dan memiliki kandungan air yang banyak sehingga menjadi salah satu alasan semakin banyaknya usahatani semangka. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis: (1) karakteristik petani dan profil usahatani, (2) teknis budidaya, penggunaan input produksi, (3) biaya, produksi, harga, pendapatan dan efisiensi usahatani semangka serta (4) pemasaran buah semangka dari aspek lembaga, saluran, fungsi biaya, keuntungan dan efisiensi pemasaran. Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Kerinci Barat Kecamatan Pangkalan Kerinci Kabupaten Pelalawan. Penelitian ini menggunakan metode survei. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan teknik sensus dengan jumlah yang diambil sebanyak 20 orang petani. Analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian didapatkan bahwa (1) rata-rata umur petani masuk ke dalam kelompok umur produktif (45 tahun), tingkat pendidikan SMP yang telah berpengalaman 12 tahun, jumlah tanggungan keluarga rata-rata 4 jiwa. Rata-rata luas lahan adalah 2,95 ha, jumlah hari kerja adalah 25,22 HOK/ha, produksi yaitu 19.700 kg/ha/MT. (2) Teknologi budidaya semangka yang diterapkan petani pada umumnya sudah hampir sesuai dengan anjuran secara teoritis. (3) Biaya produksi usahatani semangka mencapai Rp. 31.464.795Ha/MT, pendapatan kotornya Rp 87.172.500/Ha/MT, sedangkan pendapatan bersih sebesar Rp 55.707.706/Ha/MT, dan diperoleh RCR (Revenue Cost Ratio) sebesar 2,77, artinya usahatani semangka di Kelurahan Kerinci Barat Kecamatan Pangkalan Kerinci Kabupaten Pelalawan menguntungkan dan layak untuk diusahakan. (4) Lembaga pemasaran yang terlibat dalam pemasaran semangka adalah petani sebagai produsen, pedagang pengumpul, pedagang pengecer dan konsumen, saluran pemsaran terdiri dari dua saluran, saluran I: petani- pengumpul- pengecer-kosumen, saluran II: petani-pengecer-konsumen, saluran II lebih efisien dibandingkan saluran I, nilai farmer’s share pada pola pemasaran II lebih tinggi karena harga yang diterima petani lebih tinggi.
No other version available