Art Original
Analisis Dampak Penambahan Additive Cmc Eceng Gondok Terhadap Filtration Loss Dan Rheology Lumpur Pemboran
Tujuan utama dalam operasi pemboran migas adalah bagaimana pemboran tersebut dapat mencapai kedalaman akhir yang direncanakan tanpa adanya error. Hal ini berkaitan dengan masalah umum yang dihadapi dalam lumpur pengeboran, khususnya kurangnya viskositas lumpur, yang menyebabkan ketidak mampuan lumpur untuk mengangkat cutting dan hilangnya cairan ke dalam batuan dikenal sebagai (filtration loss). Additive yang saat ini digunakan pada industri perminyakan untuk filtration loss adalah carboxymethil cellulose (CMC). Lumpur yang menggunakan bahan dasar campuran additive berupa CMC berguna untuk mengikat air dan meningkatkan kekentalan. Dalam penelitian ini, fokusnya adalah menghasilkan karboksmetil selulosa dari eceng gondok, gulma liar yang tumbuh cepat di air dan sangat bermasalah. Ada dua reaksi utama untuk mengubah selulosa menjadi CMC: prosedur pertama adalah alkalisasi dan reaksi kedua diikuti dengan karboksimetilasi. Menurut (Aini & Kuswytasari, 2013) Eceng gondok dalam keadaan kering memiliki kandungan kimia yang berupa selulosa 64,51%; pentosa 15,61%, lignin 7,69%, silika 5,56% dan abu 12%. Rheology lumpur pemboran yang harus dikontrol dalam suatu operasi pemboran baik migas atau pun panas bumi adalah viscosity, plastic viscosity, yield point, dan gel strength. Dari hasil penelitian filtration loss dan rheology menggunakan CMC eceng gondok dengan kosentrasi 2, 4, 6, 8. Didapatkan nilai densitas 8.60 – 8.65 ppg, viscositas 45.11 - 49.43 s/quart, plastic viscosity 10 - 28 cp, yield point 29 - 41 lb/100ft , gel strength 0.4583 – 0.6785 lb/100ft , fitration loss 9.2 – 6.8 ml/30 menit, mud cake 0.30 – 0.79 mm. besar. Semakin banyak penambahan massa CMC eceng gondok maka nilai volume filtrate yang didapat dari filtration loss akan semakin berkurang karna lumpur semakin kental dan semua hasilnya memenuhi standar API.
No other version available