Art Original
Gambaran Subjective Well Being Pada Remaja Dengan Perceraian Keluarga
Subjective well-being merupakan penilaian seseorang terhadap kehidupannya, meliputi penilaian kognitif terhadap kepuasan hidupnya, serta penilaian afektif meliputi perasaan emosi positif dan negatif yang dialami, serta merupakan salah satu faktor yang memprediksi keunggulan hidup seseorang. Perceraian merupakan keadaan perpisahan resmi antara suami istri dan mereka bertekad untuk tidak menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai suami istri, bagi mereka yang sudah memiliki anak tentunya perceraian menimbulkan masalah psiko-emosional bagi anak. Sebaliknya, anak-anak yang lahir selama mereka hidup sebagai suami-istri bisa saja termasuk dalam salah satu orang tuanya, baik mengikuti ayah atau ibunya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran subjective well-being pada remaja dengan perceraian keluarga. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengambilan (purposive sampling) dengan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dan juga penelitian ini dilakukan secara online dengan wawancara semi-terstruktur.. Partisipan pada penelitian ini terdiri dari dua remaja yang berusia 18 tahun dengan kondisi keluarga bercerai. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antar kedua partisipan yang dimana, partisipan pertama memiliki subjective well-being yang sangat tinggi dibandingkan dengan partisipan kedua.
No other version available