Art Original
Evaluating The Combined Use Of Woven Geotextile And Wood Piles For Peat Soil Improvement (a Case Study In Rumbai, Pekanbaru, Indonesia).
Tanah gambut memiliki tantangan geoteknik yang signifikan karena kompresibilitas tinggi, kekuatan geser rendah, dan kadar air berlebihan, sehingga menyulitkan konstruksi di wilayah seperti Rumbai, Pekanbaru, Indonesia. Studi ini mengevaluasi efektivitas geotekstil anyaman dan cerucuk kayu untuk perkuatan tanah gambut dengan menggunakan data geoteknik dari proyek Urban Flood Control System Improvement (UFCSI) serta sumber data geoteknik lainnya, termasuk penelitian terdahulu yang berfokus pada tanah lunak. Pemodelan elemen hingga (FEM) dilakukan menggunakan PLAXIS 2D, di mana geotekstil anyaman dimodelkan sebagai elemen geogrid untuk perkuatan lateral, sedangkan cerucuk kayu dimodelkan sebagai balok tertanam untuk menilai transfer beban dan reduksi penurunan. Model Tanah Lunak (Soft Soil Model) digunakan untuk menangkap sifat tanah gambut yang sangat dapat dimampatkan dan perilaku konsolidasi jangka panjangnya. Model tanggul setinggi 3,0 m dengan lebar dasar 12 m dibuat dengan mempertimbangkan penyempurnaan meshing, konstruksi bertahap, pengaruh air tanah, dan analisis konsolidasi guna memastikan prediksi perilaku tanah yang lebih akurat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kasus tanpa perkuatan mengalami penurunan sebesar 1022 mm, sementara penggunaan geotekstil anyaman saja mengurangi penurunan sebesar 69,19% (menjadi 315 mm), dan kombinasi geotekstil dengan cerucuk kayu mengurangi penurunan hingga 72% (menjadi 286,7 mm). Namun, meskipun terjadi banyak peningkatan, 28% (286,16 mm) dari total penurunan tetap terjadi, yang menyoroti keterbatasan pendekatan pemodelan balok tertanam, di mana metode ini lebih cocok untuk tanah sedang hingga keras dan mungkin tidak sepenuhnya menangkap deformasi jangka panjang tanah gambut yang sangat kompresibel. Meskipun demikian, temuan ini menunjukkan bahwa integrasi geotekstil anyaman dengan cerucuk kayu merupakan teknik perkuatan yang hemat biaya dan berkelanjutan untuk meningkatkan stabilitas tanggul dan mengurangi penurunan berlebihan pada kondisi tanah gambut. Untuk meningkatkan akurasi pemodelan, penelitian lebih lanjut disarankan untuk mengeksplorasi teknik pemodelan alternatif, seperti elemen pelat atau elemen tanah dengan properti antarmuka, peningkatan kepadatan cerucuk, serta teknik pramuat guna mempercepat konsolidasi. Selain itu, penggunaan sistem geotekstil anyaman berlapis ganda dan pengaturan cerucuk dalam pola grid dapat lebih meningkatkan efisiensi perkuatan. Studi validasi lapangan perlu dilakukan untuk membandingkan prediksi numerik dengan perilaku penurunan nyata, guna memastikan evaluasi yang lebih akurat terhadap perkuatan tanah gambut.
No other version available