Art Original
Makna Tradisi Mandi Mayang Masyarakatbanjar Di Desa Kotabaru Seberida, Kecamatankeritang, Kabupaten Indragiri Hilir
Penelitian ini dilakukan untuk memahami dan mendeskripsikan makna dari tradisi Mandi Mayang yang merupakan salah satu upacara adat yang masih dilestarikan oleh masyarakat Banjar di Desa Kotabaru Seberida, Kecamatan Keritang, Kabupaten Indragiri Hilir. Penelitian ini di latar belakangi oleh kebiasaan Masyarakat di desa kotabaru seberida yang masih mengikuti atau memperingati tradisi mandi mayang,khususnya yang berasal dari suku banjar. Teori yang digunakan untuk mendeskripsikan penelitian ini yaitu teori interaksi simbolik yang dikemukan oleh George Herbert Mead, Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Penelitian ini bertujuan untuk menggali makna-makna yang terkandung dalam pelaksanaan tradisi ini dari segi spiritual, sosial, dan budaya. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif yang bertujuan untuk mendeskripsikan makna dari setiap prosesi yang di lakukan dan di laksanakan di dalam tradisi mandi mayang suku banjar, Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dengan tokoh adat, dan dokumentasi kegiatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Masyarakat di desa kotabaru seberida masih melaksanakan kegiatan prosesi mandi mayang sebelum melakukan pernikahan ,Mandi Mayang memiliki nilai simbolis sebagai sarana penyucian diri, perlindungan dari malapetaka, dan penghormatan kepada leluhur, dan mandi suci yang di anggap sebagai penolak bala, Tradisi ini juga berfungsi sebagai media pewarisan nilai-nilai budaya dan penguatan identitas etnik Banjar di tengah masyarakat yang semakin heterogen. Keberlangsungan tradisi ini mencerminkan upaya masyarakat untuk mempertahankan kearifan lokal sebagai bagian penting dalam kehidupan mereka.Kata Kunci : Tradisi Mandi Mayang, Masyarakat Banjar, Makna Budaya, Kearifan Lokal,Interaksi Simbolik.
No other version available