Art Original
Analisis Viktimologi Terhadap Kasus Love Scamming Pada Perempuan Korban Aplikasi Pencari Jodoh Online (studi Kasus Pada Perempuan Korban Aplikasi Pencari Jodoh Online)
ANALISIS VIKTIMOLOGI TERHADAP KASUS LOVE SCAMMING PADA PEREMPUAN KORBAN APLIKASI PENCARI JODOH ONLINE (STUDI KASUS PADA PEREMPUAN KORBAN APLIKASI PENCARI JODOH ONLINE) Oleh: Novia Amriani NPM: 207510308 ABSTRAK Fenomena love scamming sering terjadi pada perempuan, terutama perempuan yang menggunakan aplikasi pencari jodoh online. Ada banyak faktor-faktor yang membuat mereka rentan terhadap penipuan tersebut. Fenomena love scamming yang semakin marak ini menunjukkan bahwa perempuan merupakan kelompok yang paling banyak menjadi korban. Penelitian ini menggunakan metode mix method, dengan melibatkan 30 responden perempuan korban love scamming dan beberapa narasumber yang berkompeten di bidang keamanan digital dan psikologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa love scamming pada perempuan terjadi karena adanya hubungan emosional yang cepat terjalin melalui komunikasi daring, yang membuat korban merasa dekat dan percaya pada pelaku. Faktor-faktor yang membuat perempuan rentan termasuk rendahnya literasi digital, kurangnya kewaspadaan terhadap potensi penipuan, serta rasa kesepian yang mendorong mereka mencari perhatian dari orang asing. Penelitian ini menganalisis fenomena tersebut dengan menggunakan Victim Precipitation Theory (Teori Pemicu Korban) dan Routine Activity Theory (Teori Aktivitas Rutin). Menurut teori pemicu korban, perempuan dalam kasus ini terkadang secara tidak sadar berperan dalam mempercepat atau memfasilitasi terjadinya penipuan, seperti membagikan informasi pribadi atau terlibat dalam komunikasi yang lebih intim. Sedangkan, teori aktivitas rutin menjelaskan bahwa korban lebih rentan diserang oleh pelaku karena adanya kesempatan yang timbul dari aktivitas sehari-hari korban yang berhubungan dengan aplikasi kencan online. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa love scamming banyak terjadi pada perempuan karena faktor emosional dan ketergantungan sosial yang membuat mereka lebih mudah dimanipulasi. Untuk mengurangi dampak ini, diperlukan edukasi literasi digital, peningkatan kewaspadaan terhadap potensi penipuan, serta penegakan hukum yang lebih tegas terhadap pelaku. Pemerintah, masyarakat, dan korban perlu bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman di dunia maya.
No other version available