Kajian Psikologi Sastra dalam Novel Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam
Psikologi sastra adalah kajian sastra yang kajian sastra yang memandang karya sebagai aktifitas kejiwaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perwatakan tokoh dalam novel Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam karya Dian Purnomo. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui konflik tokoh dalam novel Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam karya Dian Purnomo. Penelitian ini menerapkan pendekatan studi pustaka dengan memperhatikan dan mendalami data yang terkumpul yang berbentuk kata-kata atau gambar yang terdapat dalam novel Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam karya Dian Purnomo yang sesuai dengan masalah penelitian. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah novel Perempuan yang Menangis Kepada Bulan Hitam karya Dian Purnomo diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama anggota IKAPI, Jakarta, 2020 yang terdiri 320 halaman. Data penelitian ini berupa dialog tokoh cerita yang berkaitan dengan perwatakan dan konflik tokoh. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa tokoh utama dalam novel ini mengalami konflik yang cukup banyak karena novel ini mengisahkan tentang perjuangan seorang wanita yang melawan budaya sampai harus mengorbankan dirinya untuk menjadi korban kekerasan dan pemerkosaan. Tradisi kawan tangkap atau Yappa Mamiwe, sebuah tradisi yang berasal dari sumba, di mana pihak laki-laki dapat menculik seorang wanita untuk dijadikan calon istrinya. Karena tradisi inilah tokoh utama dalam novel ini mengalami konflik batin. Dalam novel Perempuan yang Menangis Kepada Bulan Hitam karya Dian Purnomo ditemukan beberapa konflik seperti konflik sosial, konflik pribadi, konflik kelompok, konflik politik dan konflik budaya. Konflik pribadi banyak ditemukan karena antar tokoh di dalam novel ini saling bersitegang, adu mulut dan melakukan perkelahian. Konflik kelompok terjadi antara Dangu dengan masyarakat desa. Konflik politik terjadi atas penyuapan yang dilakukan oleh salah seorang warga kepada polisi. Konflik budaya terjadi karena ada beberapa adat yang tidak lagi relevan jika diterapkan di masa kini.
No other version available