OPINI PEDAGANG ROKOK TERHADAP PERILAKU MEROKOK ANAK DIBAWAH UMUR DI KOTA PEKANBARU
Indonesia, negara dengan perokok terbanyak ke-5 di dunia, setiap saat kita dapat menjumpai masyarakat dari berbagai usia, termasuk pelajar sudah menjadi perokok aktif. Rata-rata perilaku merokok di Indonesia saat ini sebesar (29,3%). Proporsi perokok terbanyak terdapat di Kepulauan Riau dengan jumlah perokok setiap hari (27,2%) dan kadang - kadang merokok sebesar (3,5%). Perilaku merokok pada anak dibawah umur semakin lama semakin meningkat sesuai dengan tahap perkembanganya yang ditandai dengan meningkatnya frekuensi merokok dan sering mengakibatkan mereka mengalami ketergantungan nikotin. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui opini pedagang rokok terhadap remaja di Kota Pekanbaru. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitiatif dengan teknik analisis data berupa observasi, observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahwa opini yang terbentuk dipengaruhi oleh tiga aspek utama menurut teori R.P. Abelson, yaitu kepercayaan (belief), sikap (attitude), dan persepsi (perception). Dari aspek kepercayaan, sebagian besar pedagang menyadari bahwa merokok di usia anak-anak adalah perilaku yang berdampak negatif bagi kesehatan dan perkembangan anak. Namun, keyakinan ini tidak selalu disertai tindakan tegas untuk menolak menjual rokok kepada anak-anak. Beberapa pedagang merasa bahwa tanggung jawab utama berada pada orang tua dan lingkungan anak, bukan pada pedagang semata. Dari sisi sikap, terdapat beragam perasaan dan penilaian terhadap anak-anak yang merokok. Ada pedagang yang merasa tidak nyaman, bersalah, atau ingin menolak, namun khawatir akan menimbulkan konflik dengan pembeli atau masyarakat sekitar. Di sisi lain, ada pula yang bersikap netral bahkan acuh, dengan alasan bahwa mereka hanya menjalankan fungsi sebagai penjual, bukan sebagai pengatur moral masyarakat.
No other version available