Art Original
Analisis Perbandingan Keekonomian Kontrak Hulu Migas Indonesia Dan Malaysia Pada Pengembangan Lapangan Dengan Sumur Infill Lapangan A
Kontrak Bagi Hasil Migas merupakan hal yang sangat berpengaruh terhadap keuntungan, maka negara pasti akan memperhitungkan kontrak yang nantiya akan mendatangkan pendapatan yang menguntungkan. Penelitian ini akan membandingkan kontrak industri hulu migas dengan menggunakan indikator keekonomian kontraktor miigas seperti NPV, IRR, dan POT. Penelitian ini berfokus pada kontrak PSC Indonesia yaitu Cost Recovery dan Gross Split, dengan kontrak Malaysia yaitu R/C Malaysia. Perbandingan ini dilakukan guna mengetahui apakah Indonesia mampu bersaing dalam kontrak hulu migas Internasional. Juga tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui diantara kontrak yang diteliti, kontrak mana yang lebih layak dalam studi kasus pengembangan lapangan dengan menggunakan sumur infill. Dari hasil perhitungan indikator keekonomian perencanaan sumur infill dengan investasi 6,943 US$M dan harga minyak 79.38 US$/bbl diperoleh hasil perhitungan dari peneliti bahwa skema sistem bagi hasil R/C Malaysia memperoleh hasil lebih menarik dibandingan Cost Recovery dan Gross Split. Dikarenakan pendapatan kontraktor R/C Malaysia sebesar 34,702.42 MUS$, kemudian Gross Split 30,380 MUS$ dan Cost Recovery 10,517 MUS$. Juga dari indikator keekonomian R/C Malaysia lebih unggul dibanding Indonesia, dengan nilai NPV 19,644.84 MUS$, IRR 142% dan POT 0.15 tahun.
No other version available