Art Original
Prinsip Kerja Sama Dalam Tuturan Guru Di Sman 3 Gunung Sahilan Kabupaten Kampar Riau
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kesenjangan teori Grice dengan kultur budaya masyarakat Indonesia. Perbedaan budaya barat dengan budaya Indonesia memunculkan pembicaraan yang mengandung maksim dalam prinsip kerja sama. Membahas masalah mengenai pematuhan dan pelanggaran prinsip kerja sama, dan alasan penyebab pelanggaran prinsip kerja. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan prinsip kerja sama yang terkandung dalam tuturan guru, baik yang mematuhi maupun yang melanggar. Penelitian ini berpedoman dengan teori yang dikemukakan oleh Grice tentang prinsip kerja sama. Pendekatan dalam penelitian ini pendekatan kualitatif dengan metode konten analisis. Data dalam penelitian ini keseluruhan percakapan guru yang mengandung prinsip kerja sama. Sumber data dalam penelitian yakni percakapan guru di lingkungan SMAN 3 Gunung Sahilan Kabupaten Kampar Riau. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data berupa teknik observasi, teknik catat, dan teknik wawancara. Hasil penelitian mengemukakan bahwa dari keempat maksim, maksim yang dominan muncul adalah maksim yang mematuhi, karena tuturan ini diambil dari tuturan guru di lingkungan sekolah. Lingkungan sekolah merupakan lingkungan formal. Sehingga lebih banyak memunculkan pematuhan maksim dalam tuturan yang terjadi. Namun, walaupun sekolah merupakan lingkungan formal tidak selamanya tuturan guru dapat memenuhi prinsip kerja sama, adakalanya ketika bertutur guru dapat melakukan pelanggaran prinsip kerja sama. Hal ini disebabkan oleh beberapa alasan, seperti; keakraban, ingin menciptakan humor, ingin menjelaskan suatu hal dengan rinci, ingin bersikap sopan, dan ingin terlihat santun.
No other version available