Art Original
Subjective Well Being Pada Wanita Yang Menjadi Janda
Perpisahan karena kematian adalah hal yang tidak bisa dihindari, mengakibatkan wanita menjadi janda, janda menghadapi tantangan yang beragam hidupnya, baik secara sosial, ekonomi, maupun psikologis. Kehilangan suami tentunya akan ada duka sehingga mempengaruhi kehidupan janda. Subjective well-being menggambarkan tingkat kebahagiaan seseorang yang mencakup kepuasan hidup, afek positif, dan afek negatif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Subjek penelitian ini dua orang wanita yang menjadi janda karena cerai mati dan tinggal di Kabupaten Kampar, Riau. Teknik pengambilan (purposive sampling) dengan teknik pengumpulan melalui wawancara semi-terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara kedua informan, informan pertama memiliki subjective wellbeing yang baik, dengan tingkat afek positif yang lebih dominan dan penerimaan diri, dukungan sosial, kelekatan dengan anak, serta keyakinan religius menjadi faktor utama yang memperkuat subjective well-being. Sementara informan kedua sampai saat ini belajar untuk penerimaan diri, dengan tingkat afek negatif yang lebih sering muncul, terutama dalam bentuk kesepian dan kesedihan mendalam akibat kehilangan pasangan. Namun, dukungan keluarga dan motivasi dari anak membantu informan dalam proses penyesuaian diri.
No other version available