PENGGUNAAN DIGITAL FORENSIK DALAM MENGUNGKAP TINDAK PIDANA INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK (ITE)
Pada saat ini kejahatan yang sering terjadi di masyarakat adalah manipulasi dan rekayasa bukti digital, Penggunaan digital forensik untuk menyebarkan disinformasi atau Hoaks ini bisa dilakukan oleh siapapun. kejahatan tersebut bisa terjadi karena beberapa faktor utama yang berkaitan dengan perkembangan teknologi digital, regulasi, situasi politik dan pemahaman dunia internet. Kejahatan ITE juga bisa terjadi karena perpaduan antara perkembangan teknologi, kurangnya literasi digital, motif ekonomi, kelemahan regulasi serta adanya lubang keamanan dalam sistem digital. Oleh sebab itu pencegahan kejahatan ITE membutuhkan pendekatan yang koperatif, termasuk peningkatan literasi digital, penguatan regulasi, perbaikan sistem keamanan ITE dan kerja sama internasional dalam penegakan hukum dunia digital. Dari latar belakang masalah pada penulisan tesis ini, maka yang menjadi pokok pembahasan peneliti yaitu mengkaji dan menganalisis pengaturan tindak pidana dalam kasus ITE di Polda Riau dan menganalisis Ufed Cellebrite setelah pemberlakukan pasal dalam Undang-undang ITE. Untuk memahami rumusan masalah, penelitian ini akan mengumpulkan data dengan menggunakan survei atau penelitian langsung di lapangan dengan wawancara. Tujuan dari pengumpulan data ini adalah untuk mendapatkan pemahaman yang jelas tentang faktor-faktor yang menyebabkan tindak kejahatan ITE yang terjadi dan upaya yang dilakukan untuk mencegahnya. Dari hasil penelitian yang penulis dapatkan, Dalam penanganan kasus kejahatan di bidang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), bukti digital memiliki kedudukan yang sah sebagai barang bukti meskipun tidak disebutkan secara eksplisit dalam KUHAP, dengan pengaturan lebih lanjut dalam Undang- Undang ITE yang mengakui validitas bukti digital seperti informasi elektronik, dokumen elektronik, perangakat keras dan perangkat lunak. Keberhasilan dalam analisis forensik digital membutuhkan prosedur ketat dalam pengumpulan, analisis data yang terhapus, serta pemulihan metadata, dengan tujuan menjaga keaslian bukti. Untuk mengoptimalkan penggunaan alat forensik digital, seperti Ufed Cellebrite, di Polda Riau, perlu dilakukan peningkatan kompetensi SDM melalui pelatihan dan sertifikasi, pengoptimalan penggunaan perangkat dengan memanfaatkan fitur canggih, serta kolaborasi dengan lembaga lain. Penerapan prosedur yang sesuai dengan standar internasional dan pengembangan kebijakan internal juga menjadi faktor penting untuk memastikan proses yang sesuai dengan hukum dan efektif dalam mengungkap kejahatan dunia digital.
No other version available