Text
Analisis Laju Alir Produksi Optimum Pada Sumur High Water Cut Dengan Variasi Kedalaman Perforasi Menggunakan Software Pipesim
Penurunan laju alir produksi pada sumur minyak sering kali terjadi akibat meningkatnya produksi air atau high water cut, yang umumnya disebabkan oleh gangguan mekanisme sumur maupun kondisi reservoir. Salah satu penyebab utama high water cut adalah kesalahan dalam penentuan interval perforasi yang memungkinkan masuknya zona air, kerusakan formasi, tekanan reservoir yang tidak mencukupi, serta fasilitas produksi yang sudah tidak optimal. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, metode optimasi seperti perforasi ulang (reperforasi) dan water shut off (WSO) dapat diterapkan. Studi ini dilakukan pada Sumur C-3 di Lapangan S, pada interval 1747-1754 ft sejak awal produksi sudah menunjukkan nilai water cut sebesar 90%. Setelah dilakukan workover squeeze cementing pada interval tersebut, evaluasi log menunjukkan adanya zona prospek hidrokarbon dengan karakteristik resistivitas tinggi, crossover antara log neutron dan densitas, serta litologi pasir dengan porositas dan saturasi air yang mendukung sebagai zona produktif. Interval 1747–1750 ft ditetapkan sebagai target utama perforasi ulang. Simulasi dilakukan menggunakan software pipesim dengan variasi densitas perforasi 3, 4, dan 5 shots per foot (spf). Hasil simulasi menunjukkan bahwa desain perforasi dengan 5 spf menghasilkan skin factor terendah sebesar -0,5129 dan memberikan laju alir produksi tertinggi pada water cut 20%, yaitu sebesar 422,6064 STB/d. Dengan demikian, desain perforasi 5 spf terbukti paling optimal dalam meningkatkan efisiensi dan produktivitas sumur C-3.
No other version available