Text
ANALISIS USAHATANI KELAPA SAWIT DAN PEMASARAN TBS POLA SWADAYA DI DESA SINTONG BHAKTI KECAMATAN TANAH PUTIH KABUPATEN ROKAN HILIR PROVINSI RIAU
Analisis Usahatani Kelapa Sawit Dan Pemasaran TBS Pola Swadaya Di Desa Sintong Bhakti Kecamatan Tanah Putih Kabupaten Rokan Hilir Provinsi Riau, di bawah bimbingan Bapak Ir. Tibrani, M.Si. Pengembangan usahatani kelapa sawit menjadi faktor penunjang bagi pertumbuhan ekonomi, peningkatan pendapatan dan perluasan lapangan pekerjaan di Indonesia terutama masyarakat pedesaan. Adanya permintaan dan penawaran yang berkelanjutan menjadikan usahatani kelapa sawit menjadi prioritas masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis 1) karakteristik petani dan pedagang TBS, 2) pendapatan dan efisiensi usahatani, 3) pemasaran TBS. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei yang dilaksanakan di Desa Sintong Bhakti Kecamatan Tanah Putih Kabupaten Rokan Hilir Provinsi Riau. Penelitian ini dilakukan selama 6 bulan yang dimulai pada Oktober 2024 – Maret 2025. Penentuan sampel dilakukan secara purposive sebanyak 35 petani. Data yang digunakan dalam penelitian ini bersumber dari data primer dan data sekunder. Berdasarkan hasil penelitian karakteristik rata-rata umur petani kelapa sawit swadaya di Desa Sintong Bhakti adalah 46,53 tahun, tingkat pendidikan rata-rata SMP, pengalaman berusahatani 9,88 tahun, tanggungan keluarga 4,7 jiwa. Sedangkan pedagang pengumpul dengan umur 45 tahun, tingkat pendidikan SMA, lama pengalaman usaha 13 tahun dan jumlah tanggungan kelarga 6 orang. Dari hasil analisis usahatani diketahui dengan luas lahan rata-rata 3,87 hektar, biaya usahatani yang dikeluarkan petani kelapa sawit swadaya adalah Rp.59.913.831/garapan/tahun, produksi sebanyak 107.316 kg menghasilkan penerimaan senilai Rp. 225.363.600/garapan/tahun dan pendapatan senilai Rp.165.449.769/garapan/tahun serta efisiensi usahatani 3,76 . Berdasarkan hasil analisis pemasaran diketahui terdapat 1 saluran pemasaran TBS, lembaga pemasaran meliputi petani, pedagang pengumpul (toke) dan PKS sebagai konsumen. Fungsi pemasaran dijalankan setiap lembaga meliputi fungsi pertukaran, fungsi fisik, fasilitas dan fungsi pengangkutan. Total biaya pemasaran dikeluarkan oleh pedagang pengumpul meliputi biaya transportasi, biaya bongkar dan biaya muat dengan total Rp.90 /kg. Harga beli TBS pada tingkat petani adalah Rp.2.100/kg sedangkan harga jual pada konsumen akhir (pabrik) adalah Rp.2.550. Total margin pemasaran Rp.450/kg, total keuntungan pemasaran Rp.360/kg, efisiensi pemasaran dengan nilai 4% dan farmer’s share senilai 82%.
No other version available