Text
REPERESENTASI SIMBOL MELAYU (ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES PADA TUGU JAM DI KOTA TANJUNGBATU KUNDUR)
Tugu sebagai simbol budaya memiliki peran penting dalam menyampaikan nilai-nilai identitas suatu masyarakat. Di Kota Tanjungbatu Kundur, Tugu Jam telah lama menjadi ikon daerah, namun minimnya informasi terkait makna simbol-simbol yang terkandung di dalamnya membuat masyarakat kesulitan memahaminya. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap representasi simbol Melayu yang terdapat pada Tugu Jam Tanjungbatu Kundur dengan menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes. Model semiotika Roland Barthes memberikan kerangka analisis terhadap makna yang terbagi dalam tiga tingkat : denotasi, konotasi, dan mitos. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek penelitian adalah Tugu Jam itu sendiri, sementara objeknya adalah simbol-simbol Melayu yang ditampilkan melalui elemen visual seperti atap limas, ornamen pucuk rebung, dan lebah begayut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap elemen tersebut memiliki makna yang merepresentasikan adat Melayu yang mana atap limas digunakan untuk merepresentasikan cara pandang hidup masyarakat Melayu yaitu sederhana, dan religius, lalu pucuk rebung melambangkan harapan dan pertumbuhan, sementara lebah begayut mencerminkan kerja sama, kebersamaan, dan semangat gotong royong. Makna-makna ini bukan hanya soal keindahan visual, tetapi juga merepresentasikan ideologi dan nilai-nilai budaya Melayu yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Tanjungbatu. Dengan demikian, dapat disimpulkan representasi simbol Melayu yang digunakan pada Tugu Jam Tanjungbatu Kundur adalah atap limas, ukiran pucuk rebung dan ornamen lebah begayut yang mana setiap simbol tersebut memiliki makna mendalam yang menceminkan kehidupan masyarakat Melayu di kota Tanjungbatu Kundur.
No other version available