Text
Analisis Rantai Pasok Kopra Putih Di Kecamatan Kempas Kabupaten Indragiri Hilir
Analisis rantai pasok kopra putih sangat diperlukan untuk mengetahui aliran produk, aliran keuangan dan informasi serta nilai tambah akibat adanya pengolahan kelapa menjadi kopra putih guna memenuhi permintaan konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetaui karakteristik rantai pasok kopra putih di Kecamatan Kempas Kabupaten Indragiri Hilir, (2) Mengetahui mekanisme rantai pasok kopra putih yang ada di Kecamatan Kempas Kabupaten Indragiri Hilir yang terdiri dari aliran produk, aliran keuangan dan aliran informasi (3) Menganalisis nilai tambah pada proses pengolahan kopra putih yang aa di Kecamatan Kempas Kabupaten Indragiri Hilir, (4) Menganalisis efisiensi pemasaran kopra putih di Kecamatan Kempas Kabupaten Indragiri Hilir. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dengan teknik pengambilan sampel secara purposive terhadap 27 responden, meliputi petani kelapa, pedagang pengumpul, pabrik pengolahan CV Amarta, dan konsumen. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif untuk mengidentifikasi karakteristik pelaku rantai pasok, mekanisme aliran produk, keuangan, dan informasi, nilai tambah, serta efisiensi pemasaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur semua pelaku rantai pasok kopra putih berada dalam usia produktif. Lama pendidikan petani rata-rata 7,59 tahun, pedagang pengepul 11,4 tahun, agroindustri pengolahan kopra putih 12 tahun dan konsumen kopra putih 12 tahun. Pengalaman berusaha petani rata-rata 6,35 tahun, pedagang pengepul 9 tahun dan agroindustri pengolahan kopra putih 11 tahun. Jumlah tanggungan keluarga rata-rata petani 4,33 orang, pedagang pengepul 4 orang, dan konsumen 4 orang. Mekanisme rantai pasok kopra putih melibatkan empat pelaku utama: petani, pedagang pengumpul, agroindustri pengolahan kopra putih, dan konsumen dan terdapat aliran produk yang mengalir dari petani sampai pada konsumen. Aliran keuangan mengalir dari konsumen sampai pada petani kelapa dan aliran informasi yang mengalir dari petani kelapa hingga sampai pada konsumen maupun sebaliknya. Analisis nilai tambah menggunakan metode Hayami mengungkapkan bahwa pengolahan kelapa menjadi kopra putih memberikan nilai tambah sebesar Rp 4.387/kg dengan rasio nilai tambah 46,42%. Hasil analisis efisiensi pemasaran menunjukkan bahwa efisiensi distribusi dalam sistem pemasaran mencapai 18,94%, yang mengindikasikan bahwa secara umum sistem pemasaran kopra putih telah berjalan secara efisien. Namun demikian, nilai Farmer’s Share yang hanya sebesar 23,36% menunjukkan bahwa bagian keuntungan yang diterima oleh petani masih relatif rendah, sehingga belum mencerminkan efisiensi di tingkat petani.
No other version available