Text
KAJIAN KARAKTERISTIK MARSHALL DAN KOEFISIEN KEKUATAN RELATIF LAPISAN ASPHALT CONCRETE BEARING COURSE (AC - BC) DENGAN PEMANFAATAN LIMBAH RAP SEBAGAI PENGGANTI SEBAGIAN AGREGAT
Dalam konteks teknis, pemanfaatan RAP memerlukan kajian mendalam terhadap performa campuran aspal yang dihasilkan. Salah satu metode evaluasi yang umum digunakan adalah pengujian Marshall, yang menilai parameter seperti stabilitas, flow, kadar udara (VIM), dan kadar bitumen efektif (VFB). Selain itu, Koefisien Kekuatan Relatif (Relative Strength Coefficient) dapat digunakan untuk menilai seberapa besar kekuatan campuran RAP dibandingkan dengan campuran standar. Kajian ini penting untuk memastikan bahwa campuran dengan RAP tetap memenuhi standar teknis yang dipersyaratkan oleh Bina Marga atau lembaga terkait (Departemen Pekerjaan Umum, 2018). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh penggunaan RAP sebagai pengganti Sebagian agregat pada campuran AC-BC terhadap karakteristik Marshall dan Koefisien Kekuatan Relatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental laboratorium, dimana percobaan tersebut meliputi pengujian material, penentuan KAO dan Uji Marshall pada campuran AC-BC dengan penggunaan RAP sebagai pengganti sebagain agregat. Berdasarkan hasil pengujian Marshall, hasil untuk tiap persentase RAP dalam campuran AC – BC. Pada VMA, stabilitas dan flow nilai yang didapat berbanding lurus dengan penambahan persentase RAP. Sementara pada nilai VFA semakin tinggi nilai RAP semakin kecil nilai VFA campuran. Begitu juga dengan nilai VIM. Nilai stabilitas dari variasi campuran dalam penelitian ini. Dimana pada campuran 0% RAP didapatkan nilai stabilitas campuran sebesar 2.336,69 kg, pada campuran dengan 50% RAP didapatkan nilai stabilitas 4.133,64 kg dan pada campuran dengan 100% RAP nilai stabilitas meningkat menjadi 5.384,26 kg. Nilai KKR sebesar 179,90% menunjukkan bahwa kekuatan relatif campuran dengan 50% RAP masih sangat baik, bahkan jauh lebih baik dibandingkan campuran AC – BC tanpa RAP. Akan tetapi nilai stabilitas yang terlalu tinggi dapat menyebabkan perkerasan menjadi kaku dan mudah retak, hal ini dapat disebabkan karena penggunaan maetrial yang telah mengalami penuaan (aging) sehingga mempengaruhi kinerja perkerasan tersebut, meskipun secara batas spesifikasi yang ditentukan Bina Marga penggunaan RAP memenuhi batas minimum dan maksimum seluruh parameter yang diuji.
No other version available