Text
KAJIAN KARAKTERISTIK MARSHALL PADA CAMPURAN SPLIT MASTIC ASPHALT (SMA) DENGAN PENAMBAHAN SERAT SABUT KELAPA DAN FABA SEBAGAI FILLER
Split Mastic Asphalt adalah beton aspal bergradasi terbuka dengan selimut aspal yang tebal. Campuran ini menggunakan bahan tambahan berupa fiber selulosa yang berfungsi untuk menstabilisasi kadar aspal yang tinggi. Salah satu sumber alami fiber selulosa adalah sabut kelapa. Selain sabut kelapa, jenis limbah lainnya yang dapat dimanfaat kan sebagai bahan campuran aspal adalah FABA (Fly Ash Bottom Ash) adalah limbang padat yang dihasilkan dari pembakaran batu bara di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Pemanfaatan FABA sebagai bahan pengisi (filler) dan sabut kelapa pada campuran Split Mastic Asphalt dapat menjadi alternatif penerapan green road by the process, sehingga dapat mengurangi dampak negatif konstruksi terhadap lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik SMA yang menggunakan bahan tambah serat serabut kelapa dan FABA sebagai bahan pengisi serta menentukan kadar optimum kedua bahan tersebut dalam campuran SMA. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah percobaan di laboratorium, dengan variasi campuran 0% FABA+Serabut kelapa, 1% FABA+Serabut kelapa dan 2% FABA+serabut kelapa. Penelitian ini dilaksanakan untuk menyelidiki karakteristik campuran SMA yang menggunakan FABA sebagai bahan pengisi serta sabut kelapa sebagai bahan tambah dalam campuran Split Mastic Asphalt (SMA). Berdasarkan hasil penelitian didapatkan karakteristik Marshall variasi campuran diperoleh bahwa penambahan bahan tambah berpengaruh signifikan terhadap seluruh parameter Marshall. Nilai stabilitas tertinggi sebesar 1.057,30 kg terdapat pada campuran tanpa bahan tambah (0%), namun menurun secara bertahap pada penambahan 1% (744,30 kg) dan 2% (692,10 kg). Sebaliknya, nilai VMA, VIM, dan VFA menunjukkan kecenderungan meningkat (untuk VMA dan VIM) seiring peningkatan bahan tambah. Nilai kelelehan (flow) juga menunjukkan penurunan dari 3,70 mm menjadi 3,10 mm. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan FABA dan serat sabut kelapa mempengaruhi kepadatan dan fleksibilitas campuran, namun berdampak negatif terhadap stabilitas. Dengan mempertimbangkan seluruh parameter teknis dan perbandingannya terhadap standar nasional, maka dapat disimpulkan bahwa kadar optimum bahan tambah dalam konteks penelitian ini adalah 0%, artinya FABA dan serabut kelapa belum dapat digunakan secara efektif dalam formulasi campuran SMA halus tanpa menurunkan kualitas campuran secara signifikan.
No other version available