Text
Analisis Tingkat Pelayanan Jalur Pedestrian di Jalan Pattimura Kota Pekanbaru
Pertumbuhan kota yang semakin pesat menuntut tersedianya ruang publik yang aman, nyaman, dan inklusif bagi seluruh pengguna, termasuk pejalan kaki. Di banyak kota Indonesia, fasilitas pedestrian belum menjadi prioritas, sehingga sering terjadi penyalahgunaan ruang pejalan kaki, kerusakan jalur, hingga konflik fungsi yang mengurangi kualitas pergerakan. Kondisi ini juga ditemukan pada jalur pedestrian di Jalan Pattimura, Kota Pekanbaru, yang merupakan kawasan dengan aktivitas perdagangan dan jasa yang tinggi. Alih fungsi trotoar menjadi area parkir, lapak pedagang kaki lima, serta kurangnya elemen pendukung menyebabkan penurunan kualitas pelayanan bagi pejalan kaki. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi kondisi eksisting jalur pedestrian, menganalisis tingkat pelayanan (Level of Service) berdasarkan metode HCM 2000, serta merumuskan arahan penataan fasilitas pedestrian yang lebih baik untuk menciptakan ruang kota yang aman dan layak bagi semua. Penelitian ini menggunakan metodologi mix methods, yaitu pendekatan penelitian yang menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif secara terpadu untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai fenomena yang di teliti. Analisis kondisi eksisting mengacu pada standar Permen PU No. 03/PRT/M/2014 dan SNI 03-1733-2004. Sementara itu, analisis tingkat pelayanan jalur pedestrian dihitung menggunakan variabel arus pejalan kaki, kecepatan, kepadatan, dan ruang gerak individu sesuai pedoman HCM 2000. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar segmen jalur pedestrian di Jalan Pattimura berada dalam kondisi kurang layak serta belum memenuhi kriteria dasar jalur pejalan kaki. Analisis kondisi fisik memperlihatkan adanya ketidakteraturan lebar jalur, permukaan trotoar yang tidak rata, hambatan utilitas, dan minimnya fasilitas penunjang seperti peneduh dan rambu. Dari sisi pelayanan, nilai LOS pada beberapa titik menunjukkan kategori E–F akibat beban pejalan kaki yang tinggi, penyempitan ruang gerak, dan banyaknya aktivitas non-pedestrian di atas trotoar. Sementara pada segmen dengan arus lebih rendah, LOS berada pada kategori C–D namun tetap terdampak oleh hambatan samping seperti parkir liar dan PKL. Secara keseluruhan, hasil analisis mengindikasikan perlunya intervensi komprehensif berupa perbaikan fisik trotoar, pengaturan aktivitas komersial, pengendalian parkir on-street, serta penataan ruang jalan melalui desain yang mendukung keselamatan dan kenyamanan pejalan kaki. Rekomendasi akhir penelitian ini juga mengusulkan penambahan jalur hijau, peningkatan pencahayaan, serta penerapan area bebas hambatan untuk meningkatkan kualitas pelayanan pedestrian secara berkelanjutan.
No other version available