Text
STRATEGI PENGEMBANGAN USAHATANI CABAI MERAH DI KOTA PEKANBARU PROVINSI RIAU
Pengembangan usahatani cabai merah di Kota Pekanbaru belum optimal sehingga diperlukan dukungan lintas sektor dan strategi berkelanjutan untuk memaksimalkan potensi dan peluang yang ada. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji: (1) Karakteristik petani dan profil usahatani cabai merah, (2) Usahatani (teknik budidaya, penggunaan faktor produksi, biaya, produksi, keuntungan, efisiensi usahatani), (3) Faktor internal dan eksternal melalui analisis SWOT, (4) Strategi pengembangan prioritas berdasarkan hasil analisis QSPM. Penelitian menggunakan metode survei dengan populasi seluruh petani cabai merah di Kota Pekanbaru yang terdiri dari 4 Kecamatan yaitu, Binawidya, Kulim, Rumbai Barat, dan Rumbai Timur sebanyak 235 petani, penentuan sampel dilakukan dengan teknik simple random sampling sebanyak 30% diperoleh 71 petani. Hasil penelitian umur petani rata-rata 49 tahun, pengalaman 16 tahun, pendidikan 10 tahun, jumlah anggota keluarga 4 orang, serta luas lahan garapan 0,37 ha dengan mayoritas status pinjam. Modal usahatani didominasi dari dana pribadi dengan penggunaan tenaga kerja rata-rata 221,71 HOK. Biaya produksi tercatat Rp 40.695.327/garapan/MT, produksi rata-rata 2.668 kg/garapan, penerimaan Rp 71.457.634, dan pendapatan bersih Rp 30.762.307. Nilai RCR sebesar 1,64 menunjukkan usahatani layak secara ekonomis. Dari sisi teknis, penggunaan pupuk harus dikendalikan secara efisien, pemanfaatan alat perlu dioptimalkan, sedangkan penggunaan pestisida masih perlu dikendalikan. Analisis SWOT menempatkan usahatani cabai merah pada kuadran I dengan strategi Strengths-Opportunities (SO), yaitu optimalisasi pengalaman, pemanfaatan teknologi, penggunaan benih unggul, penguatan akses pasar, serta kerja sama dengan petugas pertanian. Hasil analisis QSPM menegaskan prioritas strategi berupa pengoptimalan pengalaman petani dan pemanfaatan teknologi untuk merespons kebutuhan pasar dengan nilai TAS sebesar 6,373.
No other version available