Text
KATA SAPAAN DALAM BAHASA MELAYU DI DESA BALAI PUNGUT KECAMATAN PINGGIR KABUPATEN BENGKALIS
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya penggunaan kata sapaan sebagai bagian dari sistem komunikasi masyarakat Melayu Sakai di Desa Balai Pungut Kecamatan Pinggir Kabupaten Bengkalis. Kata sapaan tidak hanya berfungsi sebagai alat penyapa, tetapi juga mencerminkan hubungan sosial, kekerabatan, dan perkembangan budaya masyarakat setempat. Perkembangan zaman turut memengaruhi perubahan bentuk kata sapaan yang digunakan oleh generasi milenial, sehingga menyebabkan terjadinya pergeseran makna dan penggunaan. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini merumuskan dua masalah utama, yaitu: (1) bagaimana bentuk kata sapaan Bahasa Melayu Desa Balai Pungut, dan (2) bagaimana perubahan kata sapaan dalam masyarakat tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk kata sapaan serta menganalisis perubahan yang terjadi dalam penggunaannya. Penelitian ini bermanfaat secara teoritis sebagai sumbangan bagi kajian linguistik, khususnya morfologi dan sistem sapaan, serta secara praktis dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pendidik, peneliti, dan pembaca dalam memahami dinamika bahasa Melayu Sakai. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan teknik rekaman terhadap informan yang merupakan masyarakat asli Desa Balai Pungut. Data yang diperoleh ditranskripsi, diklasifikasikan, dan dianalisis menggunakan teori kata sapaan Melayu. Teknik analisis dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji menggunakan triangulasi sumber dan waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kata sapaan masyarakat Melayu Desa Balai Pungut terdiri atas dua kategori utama, yaitu kata sapaan kekerabatan (kekerabatan darah dan perkawinan) dan kata sapaan nonkekerabatan (adat istiadat, agama, dan umum). Kata sapaan sapaan kekerabatan berdasarkan darah atau keturunan terdapat 18 bentuk kata sapaan, kata sapaan dalam kekerabatan berdasarkan garis perkawinan terdapat 7 bentuk kata sapaan, kata sapaan nonkekerabatan terdapat 12 bentuk kata sapaan dan perubahan kata sapaan terdapat 25 bentuk kata sapaan. Selain itu, ditemukan adanya perubahan kata sapaan sebagai akibat interaksi sosial, modernisasi, dan masuknya budaya luar, misalnya perubahan sapaan Uwan menjadi Oma dan Abah menjadi Ayah. Temuan ini menunjukkan bahwa bahasa bersifat dinamis dan terus berkembang mengikuti perubahan sosial masyarakatnya.
No other version available