Text
STUDI KUALITATIF TENTANG FAKTOR PENDUKUNG RESILIENSI MANTAN PECANDU NAPZA DI YAYASAN RUMAH SARASEHAN
beradaptasi, dan membangun kembali fungsi kehidupan setelah mengalami masa penggunaan zat. Proses ini tidak hanya berkaitan dengan kekuatan pribadi, tetapi juga hasil dari pengalaman emosional, relasi sosial, serta dinamika lingkungan yang mengiringi perjalanan pemulihan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan faktor-faktor yang mendukung terbentuknya resiliensi pada mantan pecandu NAPZA pasca rehabilitasi, dengan menelusuri pengalaman subjektif, makna perubahan, serta peran lingkungan sosial dalam proses tersebut. Pendekatan kualitatif fenomenologis digunakan dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam terhadap tiga subjek yang telah menyelesaikan program rehabilitasi di Yayasan Rumah Sarasehan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resiliensi muncul sebagai respons terhadap berbagai pengalaman personal dan sosial, seperti motivasi internal untuk berubah, kesadaran terhadap dampak penggunaan NAPZA, serta kemampuan mengelola emosi dan stres. Dukungan keluarga, pasangan, dan lingkungan terdekat menjadi faktor eksternal paling dominan yang memberikan rasa diterima, dipercaya, dan layak untuk memperbaiki diri. Aktivitas positif seperti bekerja, beribadah, serta menjauhi lingkungan berisiko turut memperkuat adaptasi subjek dalam mempertahankan pola hidup baru. Yayasan Rumah Sarasehan berperan sebagai fondasi awal dalam membangun kontrol diri dan kedisiplinan, namun proses pendewasaan psikologis justru berkembang lebih besar ketika subjek kembali ke keluarga dan masyarakat. Dalam konteks ini, resiliensi bukan sekadar kemampuan bertahan, tetapi juga proses rekonstruksi identitas dan harapan hidup yang lebih sehat di masa depan.
No other version available