Text
FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP ADOPSI MESIN PANEN KELAPA SAWIT (MOTOYAMA MPHE 330) DI KECAMATAN BUKIT KAPUR KOTA DUMAI PROVINSI RIAU
ABSTRAK Ceri Sugraina (204210264) Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap Adopsi Mesin Panen Kelapa Sawit (Motoyama MPHE 330) Di Kecamatan Bukit Kapur Kota Dumai, dibawah bimbingan Ibu Assof. Prof. Dr. Ir. Marliati, M.Si. Usahatani kelapa sawit adalah kegiatan menghasilkan tandan buah segar (TBS) sebagai sumber pendapatan utama masyarakat di derah tersebut. Namun, jumlah petani kelapa sawit yang aktif berusahatani mengalami fluktuasi akibat berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis: 1) Karakteristik petani dan profil usahatani kelapa sawit; 2) Karakteristik inovasi (alat mesin panen kelapa sawit); 3) Faktor-faktor yang berpengaruh signifikan terhadap keputusan petani adopsi usahatani kelapa sawit; 4) Upaya untuk meningkatkan adopsi usahatani kelapa sawit. Penelitian ini menggunakan metode survey yang dilakukan selama 6 bulan, berlokasi di kecamatan Bukit Kapur, Kota Dumai. Penambilan responden dilakukan secara kuota sampel berjumlah 70 responden yang terbagi ke dalam 2 katagori yaitu 23 responden lanjut adopsi alat panen kelapa sawit dan 47 responden katagori berhenti adopsi alat panen kelapa sawit. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil menunjukan penelitian menunjukan bahwa: 1) Petani lanjut adopsi alat panen kelapa sawit mayoritas berumur 25-30 tahun dengan berpengalam usahatani selama 11-20 tahun, dan memiliki jumlah tanggungan keluarga sebanyak 4-5 orang. Luas lahan yang diusahakan petani 1,6-2,0 ha, mendapatkan pendapatan 1-3 juta rupiah/MT dengan produktivitas TBS sebesar 1,150 ton/ha. Sedangkan petani berhenti adopsi alat panen kelapa sawit mayoritas berumur 51-60 tahun dengan berpengalaman usahatani selama 11-20 tahun, dan memiliki jumlah tanggungan keluarga sebanyak 2-3 orang. Petani berhenti adopsi alat panen kelapa sawit memiliki luas lahan 2,7-3,2 ha, dengan biaya pendapatan 4-6 juta rupiah/MT dengan produktivitas 1,150 ton/ha. 2) Petani lanjut adopsi usahatani menyatakan bahwa usahatani kelapa sawit kurang menguntungkan dari segi ekonomi dan tidak sesuai dengan kebiasaan masyarakat setempat, sedangkan petani berhenti adopsi menyatakan bahwa usahatani kelapa sawit menuntungkan dari segi ekonomi dan sesuai dengan kebiasaan masyarakat. 3) Faktor-faktor yang berpengaruh signifikan terhadap keputusan petani adopsi kelapa sawit meliputui, jumlah tanggungan keluarga, pengalaman usahatani, dan kesesuaian yang adalah karaktristik petani (jumlah tanggungn keluarga, pengalam usahatani dan keseuaian alat dengan kecepatan kerja dan fisik petani). Semakin banyak tangung keluarga, semaking berpengalaman usahatani dan alat sesuai dengan kondisi fisik petani, semakin di adopsi alat panen oleh petani. 4) Untuk peningkatn adopsi inovasi di harapkan alat panen di desain sesuai dengan kondisi kinerja dan fisik petani.
No other version available