Text
Makna Interaksi Simbolik Pada Media Tepuk Tepung Tawar (Studi Deskriptif: Khitanan Adat Melayu Di Kecamatan Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami bentuk interaksi simbolik dalam tradisi Tepuk Tepung Tawar pada acara khitanan adat Melayu di Kecamatan Pangkalan Kerinci. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode pengumpulan data berupa observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi guna memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai makna simbolik yang terkandung dalam prosesi adat tersebut. Informan penelitian terdiri dari tokoh adat, Mak Indung, serta masyarakat yang terlibat secara langsung dalam pelaksanaan tradisi Tepuk Tepung Tawar. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teori interaksi simbolik George Herbert Mead yang menitikberatkan pada tiga konsep utama, yaitu mind, self, dan society. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada aspek mind, masyarakat Melayu memaknai simbol-simbol dalam Tepuk Tepung Tawar, seperti beras kunyit, beras putih, air wangi, bunga rampai, d, sebagai media doa, perlindungan, kesucian, serta harapan kebaikan bagi anak yang dikhitan. Makna tersebut terbentuk melalui proses pemahaman bersama yang diwariskan secara turun-temurun. Pada aspek self, tradisi Tepuk Tepung Tawar berperan dalam membentuk kesadaran diri dan jati diri individu sebagai bagian dari masyarakat Melayu. Anak yang dikhitan, keluarga, tokoh adat, dan Mak Indung menjalankan peran masing-masing yang disertai dengan perasaan bangga, haru, dan tanggung jawab moral. Sementara itu, pada aspek society, tradisi ini menjadi praktik sosial yang memperkuat kebersamaan, menjaga nilai adat dan ajaran Islam, serta mempertahankan identitas budaya Melayu di tengah pengaruh modernisasi. Secara keseluruhan, tradisi Tepuk Tepung Tawar tidak hanya berfungsi sebagai ritual adat, tetapi juga sebagai sarana pewarisan nilai budaya, moral, dan spiritual dalam kehidupan masyarakat Melayu.
No other version available