Text
EVALUASI GEOMETRIK JALAN TERHADAP PRINSIP JALAN BERKESELAMATAN (STUDI KASUS JALAN SIMPANG RINTIS TEMBURUN STA 05 + 450 – STA 06 + 450 KECAMATAN SIANTAN KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS)
Peningkatan pembangunan infrastruktur jalan memberikan dampak positif terhadap mobilitas dan perekonomian, namun di sisi lain berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas apabila aspek keselamatan tidak diperhatikan secara memadai. Ruas Jalan Simpang Rintis – Temburun (STA 05+450 – STA 06+450) di Kecamatan Siantan, Kabupaten Kepulauan Anambas, merupakan jalan strategis dengan topografi berbukit yang memiliki banyak tikungan dan kelandaian curam. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian parameter geometrik terhadap prinsip jalan berkeselamatan (safer road) pada ruas tersebut. Penelitian menggunakan metode kuantitatif deskriptif-komparatif, yaitu membandingkan kondisi geometrik eksisting dengan standar teknis berdasarkan Petunjuk Teknis Uji Laik Fungsi Jalan No. 06/P/BM/2024 dan pedoman desain geometrik jalan yang berlaku. Data primer diperoleh melalui survei geometrik jalan yang meliputi alinyemen horizontal dan vertikal, radius tikungan, superelevasi, dan kemiringan memanjang. Data sekunder berupa data kecelakaan lalu lintas periode 2021–2025 digunakan sebagai informasi pendukung dalam interpretasi tingkat risiko keselamatan. Hasil penelitian menunjukkan parameter geometrik jalan berkeselamatan (safer road) pada ruas penelitian belum sepenuhnya terpenuhi. Dari 19 tikungan yang dianalisis, terdapat 1 tikungan (5,26%) tidak memenuhi radius minimum (R < 15 m), serta sebagian besar segmen memiliki kelandaian melebihi standar (hingga ±28% > 10%). Selain itu, 79% tikungan tidak memiliki lengkung peralihan (Ls = 0) dan nilai superelevasi bervariasi tidak konsisten (0,9%– 10,4%), sehingga menunjukkan ketidaksesuaian terhadap prinsip geometrik jalan berkeselamatan. Pengaruh geometrik dan perlengkapan jalan terhadap keselamatan menunjukkan adanya indikasi peningkatan risiko kecelakaan. Data kecelakaan menunjukkan tren meningkat dari 5 kejadian (2021) menjadi 17 kejadian (2025) atau meningkat 240%, dengan proporsi 66,7% kecelakaan tergolong luka berat. Kondisi ini secara indikatif berkaitan dengan geometri jalan yang tidak konsisten (tikungan rapat 19 tikungan, grade ekstrem, dan keterbatasan jarak pandang) serta perlengkapan jalan yang belum terdistribusi merata pada seluruh segmen berisiko tinggi. Pengaruh tikungan terhadap jalan berkeselamatan menunjukkan bahwa terdapat 7 tikungan kritis yang berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan. Hasil analisis gaya sentrifugal menunjukkan bahwa 1 tikungan (PI 5) tidak memenuhi keseimbangan gaya lateral (f = 0,233 > 0,15), sedangkan 6 tikungan lainnya masih dalam batas toleransi. Namun secara keseluruhan kepadatan tikungan yang tinggi (19 tikungan/km) dan dominasi radius kecil (?30 m) menyebabkan segmen ini memiliki tingkat risiko geometrik tinggi dan belum memenuhi prinsip jalan berkeselamatan (safer road).
No other version available