Text
Mitigasi Bencana Banjir Menggunakan Metode Data Elevation Model (DEM) Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.
Penelitian ini berjudul Mitigasi Bencana Banjir Menggunakan Data Digital Elevation Model (DEM) di Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Latar belakang penelitian ini berkaitan dengan meningkatnya kejadian banjir di Kecamatan Kampar Kiri. Intensitas curah hujan yang tinggi terutama pada periode akhir tahun 2023 hingga awal 2025 memicu genangan di sejumlah desa, termasuk Gema, Kuntu, Padang Sawah, dan Teluk Paman. Kondisi topografi yang didominasi dataran rendah, perubahan penggunaan lahan yang semakin meluas, serta dekatnya wilayah permukiman dengan Sungai Kampar dan anak sungainya memperbesar kerentanan banjir. Oleh karena itu, diperlukan kajian spasial yang mampu menggambarkan tingkat kerawanan banjir secara komprehensif serta menghasilkan rekomendasi mitigasi yang tepat dan berbasis data ilmiah. Penelitian ini menggunakan data Digital Elevation Model (DEM) nasional dari Badan Informasi Geospasial (BIG), data curah hujan dari BMKG, data penggunaan lahan yang diperoleh dari Citra Landsat 8, serta data kependudukan dari Badan Pusat Statistik (BPS). Seluruh data dianalisis melalui pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG) menggunakan metode weighted overlay dan Multi-Criteria Decision Analysis (MCDA). Lima parameter utama diterapkan dalam analisis kerawanan banjir, yaitu elevasi, kemiringan lereng, curah hujan, buffer sungai, dan penggunaan lahan. Setiap parameter direklasifikasi dan diberi bobot berdasarkan tingkat pengaruhnya terhadap potensi banjir. Metode natural breaks (Jenks) diterapkan untuk menghasilkan pembagian kelas yang menggambarkan perbedaan variasi nilai secara jelas antarkelompok. Hasil analisis menunjukkan pembagian wilayah Kecamatan Kampar Kiri terbagi ke dalam tiga kelas, yaitu kerawanan rendah, sedang, dan tinggi. Kelas kerawanan rendah mencakup area seluas 20.793,18 ha (23,01%) dan berada pada kawasan perbukitan dengan tutupan vegetasi hutan lebat serta jarak yang relatif jauh dari aliran sungai. Kelas kerawanan sedang mencakup 33.076,59 ha (36,59%) dan berada pada wilayah, berupa kawasan landai dengan tutupan lahan berupa perkebunan, lahan terbuka, dan permukiman dengan infiltrasi yang relatif lambat. Sementara itu, kelas kerawanan tinggi memiliki luas terbesar yaitu 42.828,73 ha (47,39%), meliputi dataran rendah di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Kampar. Wilayah ini dicirikan oleh elevasi rendah, kemiringan lereng datar, serta dominasi tutupan lahan perkebunan dan permukiman sehingga memperbesar peluang terjadinya genangan banjir. Selanjutnya, analisis MCDA digunakan untuk menentukan prioritas mitigasi banjir berdasarkan tiga aspek utama, yaitu hazard, exposure, dan vulnerability. Desa Sungai Geringging dan Desa Sungai Paku tercatat sebagai wilayah dengan prioritas mitigasi sangat tinggi karena memiliki elevasi datar, memiliki kedekatan yang tinggi dengan sungai, serta menunjukkan tingkat kepadatan penduduk yang besar. Desa Lipat Kain, Kuntu, Kuntu Darussalam, dan Teluk Paman termasuk kategori prioritas sedang. Sementara itu, wilayah desa lainnya masuk ke dalam kategori prioritas rendah karena berada pada elevasi lebih tinggi atau berada pada jarak yang lebih jauh dari sungai utama. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan DEM dan analisis SIG mampu menyajikan informasi kerawanan banjir secara akurat dan dapat dijadikan dasar dalam penyusunan strategi mitigasi. Informasi tersebut memberikan dasar hasil penelitian dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah dalam pengambilan keputusan terkait rencana tata ruang, merencanakan pembangunan infrastruktur pengendali banjir, serta menetapkan strategi mitigasi non-struktural yang lebih terarah dan efektif.
No other version available