Text
PERBANDINGAN KUAT DUKUNG PONDASI BERDASARKAN DATA TANAH CPT DAN SPT TERHADAP UJI BEBAN PADA GEDUNG INDOOR SPAM IKK PANGKALAN KERINCI
Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) IKK Pangkalan Kerinci yang berlokasi di Kecamatan Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau, merupakan infrastruktur penting yang menunjang pelayanan air bersih bagi masyarakat. Kompleks SPAM ini terdiri atas beberapa bangunan utama, seperti bangunan indoor instalasi pengolahan air (IPA), gudang kimia, rumah panel, dan reservoir, yang seluruhnya didukung oleh sistem pondasi tiang. Mengingat fungsi strategis bangunan tersebut, diperlukan evaluasi terhadap stabilitas pondasi guna menjamin keamanan struktur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis stabilitas geser pondasi tiang berdasarkan data tanah CPT dan SPT, mengevaluasi stabilitas geser tiang berdasarkan hasil uji beban PDA, serta membandingkan performa stabilitas geser tiang hasil perkiraan data tanah terhadap hasil uji beban PDA. Objek penelitian berupa pondasi tiang spun pile yang diuji dengan metode PDA, yaitu tiang C- 4, G-8, dan H-7. Data yang digunakan merupakan data sekunder yang meliputi hasil pengujian CPT, SPT, dan PDA, gambar as-built shop drawing, serta spesifikasi teknis tiang. Beban efektif pondasi diperoleh melalui analisis struktur menggunakan program SAP2000. Perkiraan kuat dukung tiang berdasarkan data CPT dihitung menggunakan metode Philipponant, sedangkan perkiraan kuat dukung dari data SPT dihitung dengan metode Meyerhof. Hasil uji beban PDA digunakan sebagai acuan kuat dukung aktual tiang karena dianggap merepresentasikan kemampuan tiang di lapangan. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara teoritis, tiang C-4, G-8, dan H-7 aman terhadap keruntuhan geser karena nilai kuat dukung ultimit dari data CPT dan SPT memenuhi faktor aman minimum yang disyaratkan. Secara aktual, hasil uji beban PDA juga menunjukkan bahwa stabilitas geser tiang memenuhi kriteria keamanan. Perbandingan metode menunjukkan bahwa metode Philipponant menghasilkan nilai kuat dukung yang relatif mendekati hasil uji beban PDA sehingga bersifat lebih konservatif, sedangkan metode Meyerhof memberikan nilai kuat dukung yang lebih besar dan lebih optimis. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh keterbatasan data dan sensitivitas masing-masing metode terhadap variasi lapisan tanah.
No other version available