Text
Pengaruh Penambahan Campuran Perlite dan Spent Bleaching Earth (SBE) terhadap Tanah Lempung Ditinjau dari Nilai Kuat Tekan Bebas
Tanah lempung yang digunakan sebagai tanah dasar konstruksi memiliki beberapa kelemahan, antara lain daya dukung yang rendah serta sifat kembang–susut yang tinggi akibat perubahan kadar air. Kondisi ini berpotensi menimbulkan penurunan yang tidak seragam dan kerusakan struktur, terutama di wilayah yang didominasi tanah lempung seperti ruas Jalan Abdul Rahman Hamid, Kecamatan Tenayan Raya, yang pada beberapa bagian mengalami kerusakan dan longsoran. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik tanah lempung yang diteliti serta menentukan persentase bahan stabilisasi yang paling maksimal dalam meningkatkan nilai kuat tekan bebas (UCT) berdasarkan hasil pengujian laboratorium. Pengujian yang dilakukan meliputi pengujian sifat fisik tanah, pemadatan dengan Proctor Standar, serta uji UCT pada umur pemeraman 0 dan 7 hari. Hasil pengujian sifat fisik tanah asli menunjukkan persentase lolos saringan No. 200 sebesar 69,38%, nilai batas cair 30,71%, dan indeks plastisitas 10,53%. Berdasarkan klasifikasi USCS, tanah termasuk jenis lempung berplastisitas rendah (CL), sedangkan menurut AASHTO tergolong kelompok A-6. Nilai UCS tanah asli sebesar 190,63 kN/m². Pada campuran tanah dengan SBE 10% (TS1), nilai UCS sebesar 147,05 kN/m², sedangkan pada campuran SBE 20% (TS2) diperoleh nilai UCS tertinggi yaitu 165,21 kN/m². Penambahan SBE 30% (TS3) justru menurunkan nilai UCS menjadi 142,88 kN/m². Selanjutnya, tanah dengan kadar SBE maksimum 20% dicampur dengan perlite. Tanpa pemeraman, nilai UCS campuran SBE 20% dengan perlite 6% (TSP1) sebesar 71,34 kN/m², perlite 8% (TSP2) sebesar 62,28 kN/m², dan perlite 10% (TSP3) sebesar 53,98 kN/m². Setelah pemeraman 7 hari, nilai UCS meningkat masing-masing menjadi 105,23 kN/m², 97,17 kN/m², dan 83,83 kN/m². Penurunan nilai UCT secara umum menunjukkan bahwa bahan stabilisasi yang digunakan belum memberikan hasil maksimal, yang diduga akibat waktu pemeraman yang relatif singkat sehingga reaksi kimia belum berkembang secara maksimal.
No other version available