Text
Interaksi Simbolik dalam Membentuk Fanatisme Suporter Curva Nord 1995 terhadap Persatuan Sepak Bola Pekanbaru dan Sekitarnya
Fanatisme pada sepak bola tidak dapat lepas dari kehadiran suporter. Salah satu suporter yang dikenal fanatik yaitu Curva Nord 1955 yang merupakan kelompok suporter yang mendukung PSPS Pekanbaru. Saat pertandingan sering sekali suporter menampilkan simbol-simbol yang memiliki makna dan pesan di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana fantisme terbentuk melalui proses interaksi simbolik oleh suporter Curva Nord 1955. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi non-partisipan, dan dokumentasi. Informan pada penelitian ini diperoleh melalui teknik snowball sampling, yang terdiri dari 3 informan yang merupakan anggota fanatik dari Curva Nord 1955. Penelitian ini menggunakan teori interaksi simbolik dari Mead yang menyatakan ada tiga ide dasar dalam interaksi simbolik yaitu: Mind (pikiran), Self (diri), dan Society (masyarakat). Temuan pada penelitian ini menunjukkan bahwa: Pertama, pada aspek Mind, suporter Curva Nord 1955 mampu memberi makna mendalam terhadap simbol-simbol seperti atribut kelompok, properti visual, alat ekspresif, chants/anthem, nilai dan norma kelompok, serta ritual yang dilakukan bersama. Kedua, pada aspek Self, penelitian menemukan bahwa identitas diri suporter terbentuk melalui proses internalisasi makna simbolik yang dipadukan dengan interaksi bersama anggota lain. Ketiga, pada aspek Society, Curva Nord 1955 memiliki struktur sosial yang kuat dan memengaruhi perilaku anggotanya. Secara keseluruhan, interaksi simbolik terbukti menjadi mekanisme utama yang membentuk, memelihara, dan mereproduksi fanatisme Curva Nord 1955.
No other version available