Text
ANALISIS LAJU ALIR KRITIS MENGGUNAKAN METODE HOYLAND-PAPATZACOS-SKJAEVELAND, SCHOLS, DAN CHANEY ET AL DALAM EVALUASI TERJADINYA FENOMENA WATER CONING DAN BREAKTHROUGH TIME PADA SUMUR MINYAK X DI LAPANGAN Z
Penurunan laju produksi minyak akibat meningkatnya Water cut merupakan permasalahan utama pada sumur minyak dengan kontak langsung terhadap aquifer, yang umumnya dipicu oleh fenomena Water coning. Water coning terjadi ketika air dari zona bawah reservoir terdorong naik membentuk kerucut menuju perforasi sumur akibat penurunan tekanan dasar sumur yang berlebihan. Untuk mengendalikan fenomena ini diperlukan penetapan laju alir kritis (Critical rate) sebagai batas operasi produksi yang aman. Penelitian ini bertujuan menganalisis laju alir kritis menggunakan tiga metode korelasi, yaitu Hoyland-Papatzacos-Skjaeveland, Schols, dan Chaney et al., serta menentukan Breakthrough time dan pengaruh variasi kedalaman Water Oil Contact (WOC) terhadap perubahan Water cut pada Sumur X di Lapangan Z. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan data sekunder berupa data reservoir dan data sumur. Perhitungan IPR dilakukan menggunakan metode Composite, sedangkan perhitungan Critical rate dan Breakthrough time dilakukan menggunakan korelasi empiris dan diverifikasi melalui simulasi numerik CMG-IMEX. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju produksi aktual sebesar 660 STB/day melampaui laju alir kritis dari ketiga metode (14,42 STB/day, 5,60 STB/day, dan 2,56 STB/day), menandakan kondisi Water coning telah terjadi. Simulasi CMG menunjukkan bahwa semakin dekat perforasi terhadap WOC, semakin cepat kenaikan Water cut dan semakin pendek Breakthrough time. Kesimpulannya, pengaturan laju produksi di bawah nilai Critical rate diperlukan untuk mengurangi Water coning dan memperpanjang umur produksi sumur.
No other version available