Text
Campur Kode dalam Saluran YouTube Raymond Chin
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya peran campur kode dalam mencerminkan dinamika penggunaan bahasa dalam masyarakat bilingual dan multilingual. Masalah dalam penelitian ini adalah bentuk campur kode berdasarkan unsur-unsur kebahasaan dan asal unsur serapannya, faktor yang memengaruhi terjadinya, serta perbandingan penggunaannya antara video 1 dan 2. Tujuan penelitian ini untuk mengeksplorasi dan mengelaborasi bentuk campur kode berdasarkan unsur kebahasaan dan asal serapannya, faktor yang memengaruhi terjadinya, serta menilai perbandingan penggunaannya antara video 1 dan 2. Teori yang digunakan dalam penelitian ini merujuk pada teori bentuk campur kode berdasarkan unsur-unsur kebahasaan oleh Suwito (1983), bentuk campur kode berdasarkan asal unsur serapan dan faktor yang memengaruhi terjadinya campur kode oleh Suandi (2014). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menerapkan metode content analysis. Data penelitian ini berupa seluruh tuturan yang mengandung campur kode dalam saluran YouTube Raymond Chin. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah teknik dokumentasi, teknik simak, dan teknik catat. Teknik analisis data pada penelitian ini adalah data collection, data reduction, data display, dan conclusions. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk campur kode yang dominan berdasarkan unsur kebahasaan terdapat pada tataran kata dengan 101 dari 218 data, sedangkan berdasarkan asal unsur serapan, campur kode ke luar paling dominan dengan 208 data. Faktor utama yang memengaruhi campur kode ialah modus pembicaraan dan pembicara dan pribadi pembicara. Perbandingan menunjukkan tataran kata lebih dominan pada video 1 dibandingkan video 2. Data menunjukkan bahwa tataran kata merupakan bentuk campur kode terbanyak karena sifatnya sebagai satuan linguistik terkecil yang mudah disisipkan tanpa penyesuaian struktur kalimat yang kompleks. Selain itu perbandingan penggunaan bentuk campur kode tataran frasa dan klausa lebih banyak ditemukan pada video 2 dikarenakan Veronica merupakan seorang profesional yang menjabat sebagai Country Director Google Indonesia, dan secara profesional bekerja dalam lingkungan kerja internasional yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama.
No other version available