Text
Usahatani Dan Pemasaran Padi Pasang Surut Di Desa Pematang Sikek Kecamatan Rimba Melintang Kabupaten Rokan Hilir Provinsi Riau
Usahatani padi pasang surut merupakan kegiatan pertanian yang berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan pangan serta menjadi sumber pendapatan utama masyarakat di daerah rawa pasang surut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis: (1) karakteristik petani, pedagang pengepul, serta profil usahatani padi pasang surut, (2) teknik usahatani padi pasang surut meliputi sarana prasarana produksi, teknik budidaya, biaya, produksi, pendapatan, dan efisiensi, serta (3) pemasaran padi pasang surut meliputi fungsi, saluran, lembaga, bauran, biaya, margin, keuntungan pedagang, efisiensi, dan farmer's share. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan teknik sampling jenuh (sensus), sehingga seluruh populasi yang terdiri dari 40 petani dan 3 pedagang pengepul di Desa Pematang Sikek dijadikan responden. Penelitian ini dilakukan selama 6 bulan, dimulai pada bulan Oktober 2025 sampai pada bulan Maret 2026. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk menggambarkan karakteristik responden, profil usahatani, teknik budidaya, serta fungsi, saluran, lembaga, dan bauran pemasaran. Analisis kuantitatif digunakan untuk menghitung biaya, produksi, pendapatan, efisiensi usahatani (R/C Ratio), serta margin, keuntungan, efisiensi pemasaran, dan farmer's share. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) petani padi pasang surut didominasi usia produktif (rata-rata 50,88 tahun) dengan pengalaman bertani panjang (rata-rata 24,48 tahun), berpendidikan SD (40%), dan tanggungan keluarga 4-5 orang. Pedagang pengepul berjumlah tiga orang dengan usia produktif (rata-rata 44,67 tahun) dan pengalaman berdagang 12,33 tahun. Profil usahatani menunjukkan rata-rata luas lahan 1,24 hektar dengan status lahan didominasi sewa (52,5%). (2) Teknik budidaya sangat dipengaruhi sistem pasang surut Sungai Rokan yang penentuan waktunya menggunakan kearifan lokal (kalender Lunar) dan prediksi BMKG, dengan penggunaan varietas unggul adaptif lahan rawa seperti Ciberang, Inpari 32, dan Inpari 42. Rata-rata produksi mencapai 4.473 kg per petani per musim tanam dengan biaya produksi Rp 17.345.598 per petani, penerimaan Rp 26.236.586 per petani, pendapatan Rp 8.890.988 per petani per musim tanam, dan R/C ratio 1,52 yang menunjukkan usahatani efisien dan menguntungkan. (3) Pemasaran hanya melalui satu saluran, yaitu petani ke pedagang pengepul desa kemudian ke pedagang pengepul luar. Rata-rata harga di tingkat petani Rp 6.171/kg dan di tingkat pengepul desa Rp 6.817/kg, dengan margin pemasaran Rp 633/kg, keuntungan bersih pengepul Rp 275/kg, efisiensi pemasaran 6,70% (sangat efisien), dan farmer's share mencapai 90,71% yang menunjukkan petani menikmati sebagian besar harga jual produknya.
No other version available