Text
STRATEGI PENINGKATAN KINERJA PEMASARAN BUAH SEMANGKA DI KECAMATAN RAMBAH HILIR KABUPATEN ROKAN HULU PROVINSI RIAU
Buah semangka sangat penting dalam pembangunan sektor pertanian dan terus mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Karakteristik petani dan pedagang buah Semangka di Kecamatan Rambah Hilir Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau; (2) Kinerja pemasaran buah semangka di Kecamatan Rambah Hilir Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau; dan (3) Strategi Peningkatan Kinerja Pemasaran Buah Semangka di Kecamatan Rambah Hilir Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan kuesioner kepada 30 petani, 5 pedagang pengumpul, dan 5 pedagang pengecer. Analisis dilakukan terhadap karakteristik responden, lembaga, saluran, fungsi, biaya, margin, keuntungan pemasaran, farmer’s share, efisiensi pemasaran, dan transmisi harga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Rata-rata umur petani adalah 41,9 tahun (produktif), dengan rata-rata pendidikan 8,8 tahun, pengalaman berusaha tani 9,03 tahun, dan jumlah tanggungan keluarga 3,28 orang. Pedagang pengumpul berumur rata-rata 41,4 tahun dengan pendidikan 8,4 tahun, pengalaman 5,2 tahun, dan tanggungan 2,6 orang. Sementara pedagang pengecer memiliki rata-rata umur 41,3 tahun, pendidikan 9,3 tahun, pengalaman 5,1 tahun, dan tanggungan 2,9 orang; (2) Kinerja pemasaran buah semangka menunjukkan bahwa Saluran I (petani ? pengecer ? konsumen) efesiensinya lebih tinggi dibandingkan Saluran II (petani ? pengumpul ? pengecer ? konsumen). Biaya pemasaran pada Saluran I sebesar Rp 251,17/kg lebih tinggi dari Saluran II sebesar Rp 190,33/kg. Margin pemasaran tercatat Rp 4.160/kg pada Saluran I dan Rp 4.884/kg pada Saluran II, sedangkan keuntungan pemasaran masing-masing Rp 3.908,83/kg dan Rp 4.693,50/kg. Efisiensi pemasaran juga lebih tinggi pada Saluran I (2,39%) Saluran II (1,75%), dan farmer’s share lebih besar pada Saluran I (60,38% vs 55,03%), menunjukkan bahwa rantai distribusi yang lebih pendek memberikan keuntungan lebih besar bagi petani. Analisis transmisi harga menunjukkan hubungan harga petani terhadap harga pengumpul (Et = 0,399) dan pengecer (Et = 0,45) signifikan secara (p < 0,05) namun parsial. Hal ini mengindikasikan bahwa kenaikan harga di tingkat petani tidak sepenuhnya diteruskan ke pengecer, yang dipengaruhi oleh biaya distribusi, struktur pasar, serta margin tetap yang tinggi pada tingkat pedagang; (3) Strategi peningkatan kinerja pemasaran meliputi penguatan kelembagaan petani, pemangkasan rantai distribusi, peningkatan nilai tambah produk, dan perbaikan transmisi harga. Penerapan strategi ini diharapkan meningkatkan efisiensi, keadilan, dan kesejahteraan petani.
No other version available