Text
GENDER-BASED VIOLENCE TERHADAP PEREMPUAN PENGUNGSI ROHINGYA DI KOTA PEKANBARU
Penelitian ini bertujuan menganalisis secara komprehensif bentuk, faktor penyebab, dan dampak kekerasan berbasis gender (GBV) terhadap perempuan pengungsi Rohingya di Kota Pekanbaru, Riau, sebagai negara transit non-ratifikasi Konvensi Pengungsi 1951. Studi ini mengisi kesenjangan literatur yang minim mendokumentasikan GBV pada konteks pengungsian urban Indonesia, khususnya dinamika norma patriarki dalam komunitas stateless. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, melibatkan 3 key informan (3 orang perempuan pengungsi Rohingya) 18-45 tahun dan 4 informan (perwakilan UNHCR, perwakilan Badan Kesbangpol Kota Pekanbaru, Perwakilan Rudenim Kota Pekanbaru, Kanit Sat Intelkam Polresta Pekanbaru) camp darurat Jalan Datuk Wan Abdul Jamal, Bukit Raya. Pengumpulan data primer dilakukan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur, observasi partisipatif intensif selama tiga bulan, dan analisis dokumen resmi UNHCR, statistik Komnas Perempuan, serta laporan Kesbangpol. Hasil penelitian mengidentifikasi empat bentuk GBV dominan yang saling terkait: kekerasan fisik berupa pemukulan dan penendangan oleh intimate partner, kekerasan psikis melalui makian dan pengendalian berlebih, kekerasan seksual mencakup pemaksaan relasi dan pelecehan di ruang komunal padat, serta kekerasan ekonomi berupa pengambilalihan bantuan dan larangan bekerja informal. Faktor penyebab bersifat berlapis meliputi struktur hukum transit yang ambigu, norma patriarki Rohingya yang menormalisasi subordinasi perempuan, trauma kolektif pasca-konflik Myanmar, serta desain community house yang minim privasi dan pengawasan gender-responsive. Dampak signifikan terdeteksi pada kesehatan mental kronis (depresi, kecemasan), disintegrasi relasi keluarga, dan siklus viktimisasi lintas generasi yang mengurangi efektivitas program perlindungan internasional. Temuan menyimpulkan bahwa GBV diperparah oleh interaksi unik antara struktural pengungsi stateless, memperluas konsep socially weak victims dalam viktimologi kriminologi. Secara praktis, penelitian merekomendasikan reformasi desain hunian berbasis gender, mekanisme pengaduan multibahasa rahasia, serta koordinasi Kesbangpol, UNHCR, Rudenim, dan Sat Intelkam Polresta Pekanbaru untuk intervensi pencegahan kontekstual. Kontribusi ilmiah meliputi model pencegahan GBV pertama untuk negara transit Asia Tenggara dan integrasi teori Criminal-Function Relationship dengan data empiris urban Rohingya Indonesia.
No other version available