Text
Analisis Makna Simbolik Togak Tonggol dalam Upacara Adat Melayu di Kecamatan Langgam
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna simbolik yang terkandung dalam Tradisi Togak Tonggol pada Upacara Adat Melayu di Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan. Togak Tonggol merupakan tradisi sakral eksklusif milik pebatinan Petalangan Kurang Oso Tigo Puluah di bawah naungan Datuk Rajo Bilang Bungsu, yang dilaksanakan setiap tahun menjelang bulan Ramadan bersamaan dengan upacara Potang Mogang Balimau Kasai. Tradisi ini bukan sekadar ritual budaya, melainkan merupakan wujud nyata dari filosofi hidup masyarakat Melayu Petalangan yang tidak memisahkan antara urusan adat, agama, dan pemerintahan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan semiotika Roland Barthes yang membedakan tiga lapisan makna: denotasi, konotasi, dan mitos. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan kerangka komunikasi budaya dan interaksi simbolik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap simbol dalam tradisi ini, mulai dari tonggol (bendera kebesaran suku), tepak sirih, gondang ogung, warna tonggol, kelapa yang digendong, payung, penyembelihan kambing, hingga pertunjukan silat, mengandung lapisan makna yang memperkuat nilai kepemimpinan, spiritualitas, persatuan, dan identitas Melayu Petalangan. Tradisi Togak Tonggol berfungsi sebagai medium komunikasi budaya yang berlandaskan prinsip Tali Bapilin Tigo, yakni keseimbangan antara adat, agama, dan pemerintahan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Tradisi Togak Tonggol bukan sekadar pertunjukan budaya, melainkan merupakan mekanisme akuntabilitas kepemimpinan adat dan pembaruan kontrak moral antara pemimpin dan anak-kemenakan yang diulang setiap tahunnya, sekaligus menjadi identitas kolektif yang sarat nilai sosial dan budaya masyarakat Melayu Petalangan di Riau.
No other version available