Text
STUDY LABORATORIUM PEMBUATAN BIOETANOL DARI PEMANFAATAN NIRA AREN SEBAGAI WAX INHIBITOR PADA SUMUR PRODUKSI MINYAK BUMI
Pengendapan wax merupakan salah satu permasalahan yang mempengaruhi produksi minyak. Pengendapan wax dapat terjadi karena minyak yang mengalir memiliki nilai pour point yang cukup tinggi ketika suhu minyak turun di bawah suhu Wax Appearance Temperature (WAT) sehingga pembekuan pada suhu tertentu dapat dengan mudah terjadi. Pada penelitian ini metode yang digunakan chemical inhibitors yaitu solvent inhibitors. Solvent merupakan wax inhibitor yang dapat mengubah rheology paraffin sehingga memudahkan minyak dan gas mengalir. Bioethanol merupakan salah satu jenis solvent yang dapat menurunkan pour point dari crude oil yang mengandung wax paraffin. Air nira aren mengandung selulosa sebesar 12,04% sehingga air nira aren dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan bioethanol. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan nira aren sebagai bahan baku pembuatan bioetanol serta mengevaluasi pengaruh variasi kondisi proses terhadap karakteristik bioetanol dan kemampuannya dalam menurunkan sifat alir pada waxy crude oil. Tahapan penelitian meliputi proses hidrolisis nira aren menggunakan katalis HCl dengan variasi konsentrasi asam 15%, 20%, dan 25%, serta variasi temperatur 50°C, 80°C, 100°C, 120°C, dan 150°C. Selanjutnya dilakukan proses fermentasi menggunakan ragi dengan variasi konsentrasi 0,005, 0,01, 0,02, 0,025, dan 0,05 g/mL. Bioetanol yang dihasilkan kemudian dianalisis sifat fisiknya meliputi densitas, specific gravity (SG), viskositas, flash point, dan fire point. Selain itu dilakukan pengujian pencampuran bioetanol dengan waxy crude oil untuk melihat pengaruhnya terhadap nilai Wax Appearance Temperature (WAT) dan pour point. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi HCl berpengaruh terhadap pembentukan gula reduksi, dimana konsentrasi 25% menghasilkan gula reduksi tertinggi sebesar 24,0 °Brix. Variasi temperatur hidrolisis menunjukkan kondisi optimum pada suhu 100°C dengan nilai gula reduksi sekitar 25,2 °Brix. Pada proses fermentasi, konsentrasi ragi optimum diperoleh pada 0,02 g/mL yang menghasilkan kadar etanol tertinggi sebesar 13%. Sifat fisik bioetanol menunjukkan bahwa peningkatan kadar etanol menyebabkan densitas dan specific gravity menurun, sedangkan viskositas meningkat. Nilai flash point dan fire point bioetanol masing-masing berkisar antara 38–50°C dan 61–68°C. Hasil pengujian pencampuran bioetanol dengan waxy crude oil menunjukkan adanya penurunan nilai WAT dari 40°C menjadi 39°C serta penurunan nilai pour point dari 50°C menjadi sekitar 45°C pada rasio pencampuran 70%
No other version available